Pengamat: Ekspor listrik dimungkinkan saat di luar beban puncak
Merdeka.com - Pengamat energi dari Institute for Essensial Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyatakan rencana Dahlan Iskan atau PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan menjual listrik ke Papua Nugini dan Malaysia tak menjadi masalah. Namun, dia memberikan catatan, ekspor listrik hanya diperbolehkan ketika tidak dalam beban puncak.
Pasalnya pada saat itu, listrik tetap berproduksi, namun tak dimanfaatkan secara optimal.
"Kita butuh akses, ada sekian juta yang belum mengakses listrik yang perlu dipenuhi listriknya. Tapi pada saat bersamaan kawasan tertentu produksi listrik bisa dihasilkan yang saat itu tidak terpakai," ujar dia di Hotel Harris, Jakarta, Rabu (19/6).
Beban puncak menurutnya ketika pukul 17.00 sampai 22.00. Otomatis pada pagi hingga sore, penggunaan listrik kecil dan terbuang sia-sia. Oleh karena itu bisa dibuat sistem interkoneksi di mana listrik yang tidak terpakai dapat dibeli pihak lain.
Selain itu yang terpenting juga adalah akses listrik utamanya untuk industri, institusi harus dipenuhi terlebih dahulu.
Meski, saat ini ada 14 juta rumah tangga yang belum menikmati listrik, namun untuk mendorong mereka merasakan terang benderang juga cukup sulit.
"Tidak mudah karena sekarang mereka tinggal di pedesaan, daerah terpencil yang biaya untuk menyediakan listrik juga mahal," jelasnya. (mdk/bmo)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya