Penentuan lokasi penyalur jadi hambatan program BBM Satu Harga
Merdeka.com - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), Henry Achmad mengungkap hambatan-hambatan dalam pelaksanaan program BBM satu harga. Salah satunya, penentuan lokasi pembangunan penyaluran BBM Satu Harga.
"Ada permintaan daerah, misal titik A sudah ditetapkan, maunya Pemda di titik B. Ini kadang yang jadi masalah," ungkapnya di Kantor BPH Migas, Jakarta Selatan, Rabu (18/10).
Berdasarkan pengalaman ini, BPH Migas akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah demi kelancaran pembangunan penyalur BBM Satu Harga. "Perencanaan berikutnya tahun 2018, kita akan duduk dengan Pemda sebelum menentukan titik, karena kita yakin Pemda paham betul dengan kondisi tempatnya," tegasnya.
Selain itu, kesiapan infrastruktur yang masih kurang juga turut menghambat progres BBM Satu Harga. Menurutnya, ada lokasi yang tidak mudah dijangkau sehingga penyaluran BBM satu harga menjadi lebih lambat.
"Kemarin di Sumbawa, ada 1.000 rumah tangga cukup jauh dan sarana transportasi dan fasilitas jalan belum memadai, mereka juga butuh BBM yang terpaksa saat ini dipenuhi pengecer. Tentunya kondisi ini menyebabkan harga BBM disana jadi mahal," jelas Henry.
Henry optimis hambatan tersebut bisa diatasi sehingga komitmen dan target penyaluran BBM Satu Harga tahun ini di titik-titik yang sudah ditentukan dapat tercapai.
"Harapan kita, 54 titik yang akan kita siapkan dibangun 2017 ini bisa mencapai target," tegasnya.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya