Pemilu buat industri properti nasional lesu
Merdeka.com - Perusahaan konsultan properti Jones Lang LaSalle melihat tren perlambatan pasar properti sejak paruh kedua tahun lalu. Kondisi tersebut dinilai masih berlanjut di triwulan I 2014.
Head of Research Jones Lang LaSalle Anton Sitorus mengatakan, kondisi ini tidak lepas dari lambatnya perbaikan kondisi ekonomi global dan berimbas pada pasar properti Indonesia khususnya Jakarta.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, turut ambil bagian dalam tren penurunan pasar properti di Tanah Air. Tidak hanya itu, pemilu juga disinyalir menambah beban terhadap pasar properti, khusus untuk tahun ini.
"Ditambah dengan melemahnya sentimen pasar secara umum sebagai antisipasi dampak pemilu tahun ini yang membuat volume permintaan pasar hampir di semua sektor belakangan ini menurun," papar Anton di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/4).
Khusus untuk Jakarta, lanjut Anton, hasil survei Jones Lang LaSalle menunjukkan, pasar properti di Jakarta masih dibayang-bayangi kondisi ekonomi dan bisnis yang melambat.
Head of Markets Jones Lang LaSalle Angela Wibawa menambahkan, untuk sektor perkantoran komersial, penyerapan ruang kantor di daerah CBD kembali mengalami penurunan dari sekitar 24.000 meter persegi di triwulan sebelumnya menjadi sekitar 16.000 meter persegi.
"Walaupun penyerapan menurun, tingkat hunian perkantoran di CBD naik tipis namun tetap di kisaran 94 persen," imbuh Angela.
Untuk pasar perkantoran di daerah Non-CBD, Angela mengatakan, penyerapan sepanjang triwulan I 2014 ini turun tipis dari sekitar 22.500 meter persegi di triwulan sebelumnya menjadi sekitar 19.500 meter persegi. "Tingkat penyerapan ini lebih tinggi dari CBD," tutup Angela.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya