Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pemerintah Matangkan Kawasan Industri Batang untuk Tarik Investor

Pemerintah Matangkan Kawasan Industri Batang untuk Tarik Investor Jokowi di Kawasan Industri Batang. istimewa ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Deregulasi Penanaman Modal Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Yuliot menyebutkan perlunya melakukan pemetaan untuk mengukur daya saing potensi investasi, salah satunya mengenai harga tanah. Sebab, harga tanah di Indonesia masih tinggi mencapai USD 225 per meter kubik.

Dia mengatakan, harga ini lebih tinggi dibanding Thailand yakni USD 215 per meter kubik, Filipina USD 127 per meter kubik, Malaysia USD 100 per meter kubik, dan terendah Vietnam USD 90 per meter kubik. Hal ini turut mempengaruhi keputusan investor.

"Bagi perusahaan-perusahaan yang melakukan relokasi untuk harga tanah, terutama bagi industri-industri yang memerlukan tanah luas, ini merupakan isu yang sensitif dalam mempertimbangkan untuk merealisasikan investasi," ujarnya dalam Kajian Tengah Tahun INDEF, Selasa (21/7).

Untuk itu, pemerintah melihat perlunya membuat kawasan industri dengan harga tanah yang kompetitif, sehingga bisa kembali menjadi bahan pertimbangan bagi investor. "Pemerintah melihat bagaimana membuat satu kawasan dengan harga yang lebih kompetitif . Itu makanya saat ini masih diinisiasi adanya kawasan industri Batang," jelas dia.

Yuliot menjelaskan, lahan ini nantinya adalah milik BUMN. Kemudian ada sinergi BUMN dalam penyediaan infrastruktur. Adapun mekanismenya, bagi industri yang ingin masuk kawasan industri Batang, dapat menyewa dalam jangka waktu tertentu, atau membelinya dengan harga yang kompetitif.

"Industri yang berminat untuk masuk dalam kawasan industri Batang, mereka menyewa untuk jangka waktu yang cukup panjang, kemudian bisa juga mereka miliki tentu dengan harga yang lebih kompetitif," jelasnya.

Investasi Asing

Yuliot menjelaskan, aliran investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI) global diperkirakan menurun hingga -40 persen pada 2020 akibat virus corona. Sehingga perusahaan merevisi proyeksi pendapatan pada 2020. Adapun industri yang paling terdampak di antaranya energi, penerbangan, serta industri hospitality, dengan penurunan pendapatan sekitar 40-200 persen.

"Hal tersebut dapat berdampak kepada keputusan re-investasi perusahaan yang akan menyebabkan tertundanya rencana ekspansi investasi ke negara-negara di dunia," papar dia.

Meski demikian, investasi asing Indonesia masih mengalami peningkatan sebesar USD 2 miliar. Berbanding terbalik dengan aliran FDI di Asia yang justru mengalami penurunan sebesar USD 25 miliar.

"Dari Top 20 FDI itu kita posisinya masih di peringkat 17," tandasnya.

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6.com

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP