Pemerintah Diminta Lakukan Ini Cegah Kekurangan Pupuk di 2021
Merdeka.com - Pemerintah telah mengalokasikan pupuk subsidi pada tahun ini sebesar 9 juta ton, meningkat dari tahun 2020 yang saat itu 8,9 juta ton. Meski demikian, sejumlah kalangan memprediksi kelangkaan pupuk masih akan terjadi di 2021. Sebab, sebanarnya kebutuhan petani akan pupuk subsidi ini mencapai 23 juta ton.
Demi mencegah terjadinya kekurangan pupuk, apa yang dilakukan pemerintah? Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bustanul Arifin mengusulkan ada 5 upaya yang harus menjadi terobosan pemerintah.
"Pertama, penyempurnaan dan verifikasi data petani pada Sistem e-RDKK, setidaknya dengan cara integrasi dengan NIK, yang dikelola Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil, Kemendagri. Pada tingkat lebih lanjut, integrasi ini dapat dilakukan dengan data luas pengiasaan lahan pada Sistem Penyuluhan Pertanian, yang dikelola Badan Penyuluhan dan SDM, Kementan," ungkapnya, Kamis (28/1).
Kedua, perumusan mekanisme khusus untuk bank negara, yang terhimpun dalam Himbara sebagai penerbit Kartu Tani. Langkah ini diperlukan agar mampu menjadikan kartu ini sebagai produk perbankan, yang dapat menghasilkan penerimaan. Baginya, mekanisme saling mengandalkan dalam hal pendataan dan pemberian Kartu Tani tidak akan mampu memecahkan masalah subsidi pupuk.
Ketiga, peningkatan kapasitas penyuluh pertanian sebagai man on the spot untuk mendukung e-RDKK dan pendampingan Kartu Tani. Pembekalan khusus ini, perlu menjadi bagian integral dari kebijakan penajaman subsidi pupuk.
"Hal yang perlu diingat ialah para penyuluh pertanian lapangan (PPL) memiliki tugas pokok mengubah perilaku petani agar mampu menolong dirinya sendiri, untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraannya," paparnya.
Keempat, pendampingan petani. Pendampingan ini perlu untuk mengurangi ketergantungan pupuk kimia, melakukan pemupukan sesuai anjuran Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), mendorong pupuk organik dan pupuk hayati untuk menyehatkan tanah dan lain sebagainya.
"Kelima, pengembangan pupuk organik dan hayati, mengembangkan usaha berbasis jasa, adaptasi data science, teknologi informasi dan komunikasi (ICT), dan lain sebagainya," tandasnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya