Pemerintah Diingatkan Jaga Defisit Neraca Perdagangan di Bawah 3 Persen Akhir 2019
Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2019 defisit sebesar USD 63,5 juta. Jumlah tersebut disumbang oleh defisit sektor migas sebesar USD 142,4 juta sedangkan sektor non-migas surplus USD 78,9 juta.
Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Kacaribu, mengaku tidak masalah terhadap defisit yang terjadi pada saat ini. Asalkan kata dia, hingga akhir tahun pemerintah mampu menjaga defisit neraca perdagangan di bawah 3 persen secara trennya.
Febrio mengatakan, yang perlu dijaga untuk menekan defisit neraca dagang adalah bagaimana posisi ekspor Indonesia tetap tumbuh dan tidak turun.
"Karena ekspor yang turun itu kan berat. Karena harga komoditas belum recover. Baik batubara, apalagi CPO. Tentu kita berharap. Non migas, non CPO masih berat recovernya dan itu untuk jangka panjang," katanya saat ditemui di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Kamis (15/8).
Seperti diketahui ekspor Indonesia pada Juli 2019 mencapai USD 15,45 miliar. Nilai ekspor tersebut naik sebesar 31,02 persen dibandingkan Juni 2019 namun turun sekitar 5,12 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
"(Ekspor naik) tapi year on year negatif. Karena kalau kita, pertumbuhan PDB yang masuk ke PDB itu ekspor. Impor itu tidak mempengaruhi PDB. Jadi kalau ekspor melemah itu pengaruh ke PDB," kata dia.
Oleh karenanya, kata dia, tidak heran pemerintah merevisi pertumbuhan ekonomi yang tadinya 5,3 persen menjadi sekitar 5,1-5,2 persen. Sebab, kinerja ekspor Indonesia belum cukup menggeliat.
"Di sisi lain impor itu lebih cepet dari ekspor itu kesannya bagus. Tapi 90 persen itu impor barang modal berarti kalau impor turun berarti kita produksi lebih sedikit. Itu yang membuat revisi pertumbuhan ekonomi," tandasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya