Pembayaran elektronik Indonesia kalah dibanding Malaysia dan India
Merdeka.com - Persentase pembayaran elektronik dari total pembayaran konsumen di Indonesia saat ini masih sebesar 25 persen. Angka ini masih rendah jika dibandingkan negara-negara Asia lainnya, seperti Malaysia, India, China, Singapura, dan Korea Selatan.
"Kalau dilihat dari point of sale (POS) per 1.000 populasi, Indonesia masih jauh di bawah. Kita masih belum cukup banyak menyediakan EDC (electronic data capture) untuk pembayaran debit, dan potensi itu sangat besar," kata Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (26/10).
Menurutnya, kunci di balik kesuksesan perkembangan pembayaran digital di negara lain, seperti China dan India adalah platform agnostik yang berarti negara tersebut harus bermain dengan berbagai macam institusi keuangan atau perbankan. Selain itu, harus menjunjung tinggi kemudahan penggunaan, pembiayaan terjangkau, dan tersebar di mana-mana.
Meski demikian, ada tantangan dalam perekonomian digital di Indonesia. Pertama, masih sedikit masyarakat yang mengakses ke kredit formal. Padahal, akses kredit adalah hal yang penting untuk memajukan UMKM ke jenjang kelas menengah.
"Selain itu, kedua, cash on delivery juga sudah mulai turun. Market place kita semua sudah menggunakan escross system jadi ini lebih banyak dan aman, namun kebanyakan pembayaran masih melalui transfer bank yang merepotkan," imbuhnya.
Ketiga, sebagian besar pedagang tradisional tidak terdaftar dan tidak menggunakan akun bank untuk usaha mereka. Sehingga sektor keuangan tidak bisa mengakses bisnis mereka karena tidak ada transparansi.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya