Pembangunan Bandara Kertajati capai 27 persen, awal 2018 beroperasi
Merdeka.com - Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka saat ini sudah menyentuh diangka 27,3 persen. PT BIJB selaku pengelola langsung bandara menargetkan awal 2018 mendatang, pembangunan bandara yang menelan Rp 2 triliun sudah dapat beroperasi.
Direktur Utama PT BIJB, Virda Dimas Ekaputra mengatakan, saat ini total konstruksi yang sudah terealisasi untuk paket satu yang mencakup infrastruktur sudah mencapai 59,16 persen, adapun paket dua yang mencakup terminal penumpang sudah tereliasasi sebesar 18,69 persen dan paket tiga meliputi bangunan penunjang yaitu sebesar 29,10 persen.
"Dari seluruh seksi itu, November (2017) bisa rampung. Target tahun 2018 bisa dioperasikan. Ini sudah sesuai schedule," kata Virda di Bandung, Rabu (1/2).
Dia melanjutkan, seluruh pembangunan yang tengah dikerjakan BIJB berdiri di atas lahan seluas 1.000 hektar. Sebab sejauh ini masih ada 800 hektar lahan lagi yang belum terbebaskan oleh Pemprov Jabar. Lahan itu nantinya akan digunakan untuk runway kedua dan ketiga.
"Harapannya segera dibebaskan. Takutnya nanti diisi penduduk. Bandara Soekarno-Hatta jugakan gitu, sulit bebaskan runway tiga. Berkaca ke situ, yang penting lahan sudah aman," ujarnya.
Dia juga mengklaim, permasalahan dengan warga yang sempat terjadi akibat adanya penolakan pembebasan lahan di runway satu sudah selesai. "Sudah clear kalau itu semuanya," jelasnya. Landasan pacu yang dibuat itu kebutuhannya mencapai 3.000 meter.
Dia menambahkan, dari total Rp 2,1 triliun yang dibutuhkan untuk pembangunan bandara ini 27 persen anggaran yang berasal dari Pemprov Jabar sudah digunakan. Saat ini pihaknya masih membutuhkan dana sebesar Rp 1,7 triliun agar pembangunan ini bisa selesai yang ditargetkan.
Dia menyatakan, untuk pendanaan sendiri pihaknya memperoleh pendanaan dengan skema reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) (dari PT Danareksa Investment Management) dengan nama RDPT Infrastruktur Dirgantara yang akan diluncurkan pada Maret ini.
"Nantinya, saham tersebut dijual per unit penyertaannya. Satu lembarnya Rp 1.000. Perusahaan yang berminat minimum membeli Rp 100 miliar dan maksimal diatas Rp 1,5 triliun. Pendanaan tersebut terbuka bagi perusahaan manapun," jelasnya. Beberapa perusahaan yang siap mengikuti itu di antaranya ada BPJS.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya