Pakai fasilitas hedging, Pertamina klaim aman dari pelemahan Rupiah
Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) terus merosot, bahkan sempat menyentuh level Rp 14.700 per USD. Kondisi ini mengganggu industri di tanah air, termasuk sektor minyak dan gas (migas).
PT Pertamina misalnya, perusahaan pelat merah ini mengaku sangat merasakan dampak pelemahan Rupiah. Terutama dalam mendatangkan pasokan minyak dari luar negeri. Akibatnya beban biaya untuk memasok minyak mentah dan produk BBM dari impor makin besar.
Walau demikian, pelemahan Rupiah diakui belum membuat Pertamina sampai merugi. "Tentunya cost of moneynya memang meningkat. Tapi kami memiliki instrumen yang kami pakai untuk mengantisipasi hal tersebut," kata Vice President Corporate and Communication, Wianda Pusponegoro di Jakarta, Jumat (25/9).
Wianda menjelaskan, medio Mei 2015 pihaknya telah menerapkan lindung nilai (hedging) atas transaksi yang menggunakan valuta asing (valas) mencapai USD 2,5 miliar. Fasiltas tersebut hasil dari kerja sama dengan tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Diharapkan, dengan hedging ini pihaknya mampu menutup tekanan penguatan dolar Amerika ke depannya. Maka dari itu, BUMN migas ini menganggap cara itu paling ideal atasi pelemahan ekonomi dan rupiah beberapa bulan terakhir.
"Dengan hedging sangat positif kurangi risiko atau kerentanan dolar terhadap Rupiah. Karena kita semua tahu, tekanan ini memengaruhi ke semua (industri)," terangnya. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya