Operasi pasar tak ampuh tekan harga daging jadi Rp 80.000 per Kg
Merdeka.com - Kebijakan Operasi Pasar (OP) untuk menurunkan harga daging sapi menjadi Rp 80.000 per kilogram dinilai belum berhasil. Buktinya, harga daging sapi saat ini masih berkisar Rp 115.000-135.000 per kilogram.
Direktur Pengadaan Badan Urusan Logistik (Bulog), Wahyu mengatakan, niatan pemerintah menjual harga daging sapi di angka Rp 80.000 per kilogram belum diiringi dengan desain yang matang dalam pola tata niaga yang digulirkan, sehingga pada saat digelontorkan banyak pihak yang dirugikan.
"Namun bagaimana pun tugas kami tentu menyukseskan tugas pemerintah," katanya di Jakarta, Kamis (28/7).
Menurut Wahyu, persoalan mahalnya harga daging sapi bukan semata kenaikan permintaan, pemerintah baru memikirkan jangka pendek bagaimana menurunkan harga daging sapi secepat mungkin dengan OP, namun tidak memperhitungkan dampaknya buat elemen lain seperti petani, peternak, feedloter hingga masyarakat.
"Harusnya dengan OP itu tidak bisa menghilangkan peran feedloter, peran peternak, namun justru mereka harus tetap tumbuh bersama," kata dia.
Selama Ramadan dan Lebaran tahun ini, Bulog mendapat mandat untuk menyalurkan daging sapi murah dikisaran harga Rp 80.000 sebanyak 10.000 ton hingga akhir tahun ini, namun dalam realisasinya akibat minimnya pasokan, hanya sekitar 3.000 ton yang berhasil disalurkan.
"Kami hanya seminggu sebelum puasa mendapatkan tugas itu, awalnya PT Berdikari yang ditugaskan, namun dalam perjalanannya daging tidak kunjung tiba, sehingga pemerintah menujuk Bulog menjelang puasa untuk impor dari Australia, New Zeland dan lainnya," ujarnya.
Wahyu mengakui, selama OP berlangsung Bulog tidak mengambil keuntungan sama sekali, sebab pola usaha yang dilakukan Bulog menggunakan skim usaha komersial atau sama dengan sistem pembelian perusahaan lainnya. "Kami membeli saja harga daging dikisaran Rp 78.000, dan menjual Rp 80.000, itu termasuk di luar daerah seperti Lampung, Medan, Palembang dan lainnya padahal kami mengirimkan menggunakan pesawat," kata dia.
Direktur Utama PD Dharma Jaya, Marina Ratna Dwi Kusumajati menambahkan, pelaksanaan operasi pasar yang dilakukan pemerintah tidak memberikan dampak yang signifikan dalam menurunkan harga. Sebab dalam kenyataannya tidak banyak masyarakat yang membeli daging beku dari impor tersebut. "Sampai tanggal 30 Juni kami hanya bisa (menjual) 140 ton, sebab yang 60 (ton) baru datang setelah Lebaran, kenapa kami sampaikan agar kita tahu semua," ujarnya.
Selama OP berlangsung, lembaganya hanya menjual harga daging di kisaran Rp 85.000-89.000 per kilogram atau lebih tinggi dibanding harga Rp 80.000 yang diharapkan pemerintah. Namun hal itu tidak menimbulkan persoalan dari pemerintah.
"Itu bukti bahwa Pak Jokowi mau menerima penjelasan memang harga daging selayaknya segitu," ujarnya.
Pengamat Peternakan, Rochadi Tawaf mengakui, pelaksanaan OP yang dilakukan pemerintah belum membuahkan hasil. Pengajar Peternakan Universitas Padjajaran Bandung ini menilai, keinginan Presiden Jokowi untuk menjual daging seharga Rp 80.000 tidak diimbangi gran desain yang matang di lapangan.
"Pemerintah menganggap data suplai tidak benar, data demand tidak benar, sementara yang ada hanya harga, sehingga harga inilah yang menjadi patokan ketimpangan suplai demand."
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya