Olahan salak ini tembus pasar Timur Tengah
Merdeka.com - Buah salak tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Buah meja ini biasa dikonsumsi segar, atau dibuat olahan seperti manisan, asinan, atau dikemas sebagai keripik. Namun, buah salak juga bisa dijadikan camilan karamel.
Adalah Sri Sujarwati (50) yang menyiasati buah salak agar tidak mubazir terbuang saat pasokan melimpah.
Sri memaparkan, niat awalnya adalah membuat dodol salak dengan kemasan sederhana. Ternyata, dodol salak dengan kemasan sederhana kurang menarik bagi masyarakat muda. Oleh sebab itu, Sri kemudian memutar otak supaya olahan salak juga bisa masuk dalam zona camilan kawula muda.
"Untuk Anak-anak muda biar makannya tidak malu. Ini seperti soyjoy, camilan sehat tidak bikin gemuk, anti oksidannya tinggi," kata Sri kepada merdeka.com, Jumat (6/11).
Sri mengatakan, Sleman merupakan sentra produksi salak. Buah salak sangat melimpah saat panen hingga menyebabkan harganya sangat jatuh. Olahan salak ini sebagai siasat untuk agar salak mempunyai nilai tambah.
"Dulu pas booming panen harga cuma Rp 700 per kg, sekarang sudah Rp 3.500 per kg. Mulai usaha 2011. Pengadaan mesin 2010 beli mesin. Modal awal Rp 500 juta modal mesin, peralatan, kemasan, ngolah resep dan lain-lain," jelas Sri.
Di 2012, Sri mulai produksi dan memasarkannya ke seluruh Indonesia. Sisi pemasaran tidak hanya dilakukan secara tradisional, Sri juga menggarap pemasaran secara online. Melalui pemasaran secar online ini, karamel salak sudah mulai dikirim ke wilayah Timur Tengah. "Kita juga jual online. Sudah kirim ke Timur Tengah," ujar Sri.
Saat ini, Sri sedang membidik pasar Amerika Serikat. Diakui Sri, untuk bisa menembus pasar Amerika Serikat tidak mudah, terlebih lagi karamel salak buatan Sri masih menggunakan minyak sawit.
"Prepare ke Amerika tapi masih kendala karena kita pakai minyak sawit, izin halal Amerika sudah, tinggal sertifikasi keamanan pangan Amerika," ujar Sri.
Saat ini, Sri bisa mendapatkan setidaknya Rp 10-15 juta per bulan melalui jualan berbagai olahan salak. Angka tersebut bisa didapat Sri dalam sehari saat Idul Fitri tiba.
Tidak hanya untuk menghidupi keluarganya, Sri juga membangun bisnis olahan salak untuk bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi lingkungannya.
"Sekitar 14 orang pekerja kalau lagi tidak musim. Kalau lagi musim itu ada tambahan (pekerja) manula yang sudah tidak bisa ngapa-ngapain cuma duduk saja bersihin (salak), itu bisa sampai 50 orang. Saya memang ajak orang-orang sekitar saya," terang Sri.
Sri mengakui permintaan karamel salak ini sangat banyak. Namun, dirinya masih terkendala permodalan untuk bisa ekspansi menggarap kebutuhan pasar modern. Sri mengaku masih khawatir mengajukan pinjaman modal dari perbankan. Dirinya selama ini mengandalkan kekuatan pribadi dan keluarganya.
"Permintaan banyak tapi belum bisa masuk pasar modern karena permodalan masih kurang. Ini baru mau ajukan permodalan, tapi masih takut pengembaliannya, karena kan kami masih di kampung, takut urusan sama bank karena bank itu kelihatannya baik tapi sebenarnya kejam. Berani utang ya harus berani kembaliin," papar Sri. (mdk/sau)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya