Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

OJK klaim sukuk makin populer di Indonesia

OJK klaim sukuk makin populer di Indonesia sukuk. Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini potensi sukuk, atau obligasi ritel syariah, sebagai sumber pembiayaan korporasi dan pemerintah akan semakin berkembang. Dasarnya adalah data tahun lalu, di mana sukuk sudah mencakup 16,8 persen total penerbitan utang bersifat efek di Indonesia.

"Tahun 2013 cukup menggembirakan bagi pasar sukuk Indonesia, baik korporasi maupun negara. Ada 10 penerbitan sukuk korporasi ke 16 negara, dengan total nilai Rp 51,4 triliun," kata Komisioner Bidang Pasar Modal OJK Nurhaida dalam seminar Asian Development Bank, di Jakarta, Kamis (20/3).

Data dimiliki OJK, total penerbitan sukuk Indonesia termasuk 5 persen dari pangsa pasar seluruh dunia. Sejak sukuk pertama kali diterbitkan pada 2002, sampai saat ini secara kumulatif telah ada 64 kali penerbitan obligasi syariah dari korporasi.

Nurhaida menilai, jenis perusahaan yang menerbitkan sukuk juga lebih beragam. Sektor perdagangan paling banyak mengambil jenis obligasi ini, sebesar 24 persen. Sedangkan, 20 persen sukuk diterbitkan industri jasa keuangan.

Sisanya, 13 persen sukuk diterbitkan korporasi sektor pertanian, dan dalam jumlah yang sama oleh perusahaan fokus di bidang infrastruktur.

Nurhaida mendorong jenis industri lain mencoba memanfaatkan sukuk buat sumber dana usaha. "Masih ada sektor industri potensial belum manfaatkan sukuk. Padahal efek sukuk sangat erat kaitannya dengan pengembangan sektor riil, karena harus ada underlying aset," ungkapnya.

OJK lantas mencontohkan kesuksesan sukuk membiayai proyek infrastruktur raksasa di Timur Tengah. Lembaga superbody ini meyakini pelaku usaha Indonesia bisa meniru contoh berhasil itu.

Ini juga sesuai dengan tren pasar keuangan syariah yang membesar di dunia.

"Di Timur Tengah, pelabuhan, jembatan, tol, bandara pembiayaannya berasal dari terbitan sukuk. Jenis investornya punya potensi besar dan luas, termasuk juga investor konvensional, mengingat banyak investasi kini ingin surat utang yang berdasar syariah," kata Nurhaida. (mdk/bim)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP