Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

OJK catat 449 pengaduan layanan jasa keuangan, tertinggi perbankan

OJK catat 449 pengaduan layanan jasa keuangan, tertinggi perbankan OJK. ©2013 Merdeka.com/Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sarjito mencatat pengaduan masyarakat mengenai transparansi layanan jasa keuangan sebanyak 449 aduan sejak tahun 2013 hingga 2018. Pengaduan tersebut sebagian besar mengenai keterbukaan informasi produk atau layanan perbankan yang dianggap tidak sesuai dengan penawaran di awal.

"Pengaduan terbesar pada sektor produk perbankan yang tidak sesuai sebesar 238 aduan. Kemudian, restrukturisasi kredit atau pembiayaan sebanyak 82 aduan, pencairan atau klaim asuransi 75 aduan, kesulitan klaim 71 aduan, dan permasalahan agunan atau jaminan 43 aduan," ujar Sarjito di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (26/4).

Sarjito melanjutkan, data pengaduan konsumen ke OJK periode 2013 hingga 2018 menyebutkan pengaduan paling banyak adalah mengenai layanan perbankan yaitu sebesar 53,3 persen. Lalu perasuransian sebesar 25,8 persen, lembaga pembiayaan (multifinance) sebesar 12,7 persen, pasar modal 3 persen dan dana pensiun paling sedikit 1,3 persen.

"Jadi memang yang terbanyak adalah mengenai perbankan. Karena pengetahuan masyarakat mengenai perbankan ini sudah semakin besar, sehingga apapun yang mereka hadapi tidak adil mereka akan mengadukan," jelasnya.

Pengaduan ketidaktransparan produk perbankan akibat dari kesalahan di awal perjanjian. Di mana, pemberi layanan keuangan tidak memberikan penjelasan lengkap mengenai produk yang ditawarkan. Hal ini kemudian, merugikan bagi konsumen ketika timbul suatu masalah.

"Masalah aduan pada produk jasa keuangan di pengaduan produk perbankan. Pertama, calon konsumen dianggap mengerti risiko dari kartu dan kredit yang diberikan perbankan. Selalu orang mengatakan bahwa calon nasabah itu pasti sudah mengerti akan produk jasa keuangan, padahal tidak juga. Semua itu masih harus dijelaskan dengan clear," ujarnya.

Sardito melanjutkan, selain informasi produk yang tidak terbuka hal lain yang membuat pengaduan sektor perbankan cukup tinggi adalah penjelasan agen yang minim mengenai kartu kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA) dan kredit mikro. Padahal, ketiga komponen ini memiliki tujuan dan penggunaan yang berbeda beda.

"Hal ketiga yang membuat pengaduan perbankan besar yaitu, konsumen tidak menerima salinan perjanjian kredit. Keempat, penalti pelunasan yang dipercepat ditentukan sepihak. Kelima, tidak ada konfirmasi jumlah dana yang ditransfer. Keenam, perubahan bunga dan tenor yang tidak jelas," jelasnya.

Sementara itu, di sisi asuransi juga memiliki permasalahan yang sama. Di mana penyedia asuransi tidak jelas dalam memberikan informasi produk kepada nasabah (praktik telemarketing). "Misalkan biaya dan risiko tidak diinformasikan dengan baik, kadang saya sebagai calon nasabah ditawari hal yang terlalu menarik sekali," tandasnya.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP