Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nilai tukar Rupiah tinggalkan level Rp 14.500-an per USD

Nilai tukar Rupiah tinggalkan level Rp 14.500-an per USD rupiah. shutterstock

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak menguat di perdagangan hari ini, Kamis (26/7). Tadi pagi, Rupiah dibuka dilevel Rp 14.437 per USD atau menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 14.475 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah masih terus menguat usai pembukaan. Tercatat nilai tukar sempat menyentuh level Rp 14.433 per USD. Saat ini, Rupiah melemah tipis ke level Rp 14.453.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menyebut bahwa pelemahan atau depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sejak Januari hingga 20 Juli 2018 telah mencapai 6,93 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan beberapa negara seperti Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, depresiasi dialami mata uang Malaysia sebesar 0,38 persen, Vietnam depresiasi sebesar 1,52 persen, Thailand depresiasi 2,60 persen dan China depresiasi sebesar 4,42 persen. Namun di bawah Indonesia masih ada Filipina yang terdepresiasi sebesar 7,24 persen dan India sebesar 8,12 persen.

"Rupiah itu melemah mulai Januari sampai sekarang 6,93 persen. Yang lebih baik dari kita adalah China 4,42 persen kemudian Thailand bath, dong Vietnam, ringgit Malaysia, Japanese yen. Yang lebih jelek dari kita cuma dua, satu Filipina peso, kedua India rupee," ujarnya di Gedung Pusdiklat Kemenlu, Jakarta, Selasa (24/7).

Data-data tersebut menunjukkan tidak hanya Indonesia yang mengalami pelemahan nilai tukar. Hal ini lebih kepada kondisi ekonomi global yang tidak menentu. "Sehingga yang kita alami adalah akibat dari tren ekonomi global juga, kita kursnya goyang-goyang. Dan itu memang membuat orang mau investasi ngitung-ngitung dulu," jelasnya.

Untuk mengantisipasi dampak pelemahan Rupiah secara berkepanjangan, pemerintah akan memaksimalkan kinerja ekspor dan menekan laju impor. Salah satunya kebijakan perluasan penggunaan Biodisel 20 persen atau B20 sehingga Indonesia tidak lagi ketergantungan impor migas.

"Karena ini menyangkut crude oil migas, ya kita kerjakan ini juga. Sekarang namanya dikenal biodisel karena kita campur solar dengan CPO 20 persen. Nah yang kita lakukan adalah mewajibkan semuanya pakai B20 dan kita yakin dalam satu tahun defisit migas hilang. Sehingga tekanan terhadap kita itu tidak seberat sebelumnya," jelas Menko Darmin.

Mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut menambahkan, pemerintah juga berupaya memperbaiki investasi dalam negeri, terutama investasi yang berorientasi ekspor. Para investor kini dimudahkan dan diberi keringanan pajak melalui sistem pelayanan terpadu secara online atau online single submission.

"Kombinasi itu dipakai untuk mengundang investor yang berorientasi ekspor. Kemudian juga kita sambil mendorong kualitas SDM melalui perbaikan pendidikan dan pelatihan vokasi atau SMK yang akan kita terapkan tahun depan," tandasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP