Meramal perekonomian RI di tahun ayam api
Merdeka.com - Melemahnya perekonomian global nampaknya masih harus dihadapi oleh Indonesia tahun ini. Terlebih lagi, berbagai isu global yang memengaruhi perekonomian nasional di akhir tahun lalu, seperti terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat.
Chief Economist PT Bank CIMB Niaga, Adrian Panggabean mengatakan, perekonomian Indonesia di 2017 diprediksi masih akan menemui tantangan dari sisi eksternal. Meski demikian, indikasi perbaikan dari sisi domestik menjadi kunci terbukanya ruang pertumbuhan perekonomian Indonesia ke depan.
Dari sisi eksternal, lanjutnya, prospek kenaikan Fed Funds Rate (FFR) sebanyak tiga kali pada 2017 akan menciptakan tren penguatan Dolar secara global. Tren penguatan ini akan berdampak negatif terhadap pelemahan Rupiah dan perekonomian nasional.
Meski demikian, dia menilai kenaikan tingkat suku bunga di Amerika Serikat serta akan relatif kuatnya Dolar belum tentu menguntungkan perekonomian Amerika Serikat. Sebab, struktur perekonomian Amerika Serikat masih menunjukkan pelemahan dengan menurunnya tingkat produktivitas dan dinamika di pasar tenaga kerja, serta masih kurang kuatnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) secara nominal.
"Hal ini membuka kemungkinan temporernya sifat penguatan mata uang Dolar di tahun 2017," ujar Adrian di Jakarta beberapa waktu lalu.
Selain itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan ekonomi dunia beberapa waktu terakhir, tepatnya setiap tiga bulan, juga selalu dikoreksi ke bawah. Menurutnya, perlambatan ekonomi global ini disebabkan dua indikator yakni kondisi politik dan kerentanan pasar keuangan dunia.
"China diperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini 6,5 persen. Perkiraan tahun depan, 6,2 persen. Amerika Serikat meningkat, tetapi ujungnya seperti apa nanti kita lihat," ujarnya di acara Outlook Ekonomi Indonesia Tahun 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta. (mdk/bim)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya