Menperin: RI akan jadi produsen Stainless Steel terbesar kedua dunia
Merdeka.com - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah Menteri, salah satunya Menteri Perindustrian Airlangga Hartato. Isu yang dibahas adalah perihal pemanfaatan hasil tambang.
Dalam rapat ini, Airlangga melaporkan mengenai proses hilirisasi yang tengah berjalan di Tanah Air. Ada hilirisasi yang menonjol dalam perkembangannya, yakni adanya perusahaan yang akan membangun refinery untuk mengubah ferro nikel menjadi stainless steel.
"Tahun depan itu akan ada 2 refinery untuk memproduksi nikel untuk kebutuhan 5 juta stainless steel," ujarnya di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu (2/11).
Menurut Politisi Golkar ini, jika produksi sebesar 5 juta ton stainless steel tercapai, maka Indonesia akan menjadi negara kedua terbesar dalam memproduksi Stainless Steel di dunia setelah China.
"Kalau kita memproduksi 5 juta stainless steel, kita menjadi produsen nomor 2 di dunia sesudah China," tuturnya.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Kementerian Perindustrian,I Putu Wiryawan mengatakan, ada 3 perusahaan produsen stainless steel terbesar di China yang membangun pabrik pengolahan stainless di Indonesia. Perusahaan tersebut tersebut membangun industrinya di kawasan Konawe, Sulawesi Tenggara dan Morowali, Papua.
"Tiga perusahaan China yang besar bikin stainless steel, sudah ada di sini. PT Ching San dan PT Guang Xi di Morowali, PT Delong di Konawe. Jadi 3 perusahaan besar itu sudah di sini," ujarnya di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu (2/11).
Lanjut Putu, ketiga pabrik tersebut memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Untuk PT Ching San dan PT Guang XI mereka masing-masing akan memproduksi 1,5 juta ton stainless steel. Sementara PT Delong, mereka memproduksi 2 juta ton stainless steel.
Total produksi 3 perusahaan raksasa China tersebut, berpotensi akan berkontribusi bagi separuh produksi stainless steel di China.
"Iya, jadi totalnya produksi mereka 5 juta ton stainless steel. China itu memproduksi 21 juta ton. 3 besarnya mereka sudah pindah kesini. Berarti kita perkirakan separuh dari produksi stainless China, nantinya dilakukan di sini," jelas dia.
Ketiga perusahaan tersebut telah melakukan investasi sebesar Rp 10 triliun. Jumlah tersebut belum ditambah dengan nilai Rp 10 triliun lainnya untuk investasi di produksi ferro nikel.
Diperkirakan, industri pembuat stainless steel tersebut akan mulai beroperasional pada 2018 mendatang. Saat ini, 3 perusahaan tersebut masih dalam tahap uji produksi dan percobaan.
"Kalau dia masuk ke stainless steel yang lebih hilirnya itu tambah lagi Rp 10 triliun. Sekarang sudah Rp 10 triliun untuk bikin ferro nikel. Jadi dari tanah, dibikin lagi untuk ferro nikel. Itu sudah Rp 20 triliun. Sebetulnya sekarang mereka sudah uji produksi, untuk stainless steel sudah trial run. Komersial mungkin 2017-2018," pungkasnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya