Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menpar: Gaji CEO sektor pariwisata Rp 100 juta, CEO migas Rp 2 M

Menpar: Gaji CEO sektor pariwisata Rp 100 juta, CEO migas Rp 2 M arief yahya. ©blogspot.com

Merdeka.com - Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengaku prihatin dengan pekerja sektor pariwisata yang hingga kini masih dibayar dengan gaji per bulan relatif murah jika dibandingkan bidang kerja lain. Padahal, sektor pariwisata menjadi salah satu andalan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.

"Gaji masih kecil sekali jika dibandingkan mereka yang bekerja di perusahaan komunikasi dan perusahaan tambang," ucap Arief seperti dikutip dari Antara Palembang, Kamis (1/6).

Arief menjelaskan, untuk level CEO saja, gaji pekerja sektor pariwisata cuma selevel manajer di sektor lain, tidak sampai Rp 100 juta per tahun. Jika dibandingkan dengan gaji CEO perusahaan migas yang bisa Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar per tahun, maka gaji pekerja sektor pariwisata sangatlah kecil.

Untuk itu, dia mengingatkan bahwa perlu adanya upaya serius dari kalangan pelaku pariwisata untuk meningkatkan pendapatan.

Menurut Arief, salah satu yang paling efektif yakni mengharuskan setiap tenaga kerja profesional memiliki sertifikat berstandar internasional, atau setidaknya tingkat regional ASEAN yang dikeluarkan saat menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Langkah awal yang paling tepat yakni memulainya di sektor pendidikan tinggi pariwisata. Seluruh Poltek Pariwisata yang berada dibawa kendali Kementerian Pariwisata saat ini diwajibkan mengeluarkan lulusan bersertifikat.

"Bahkan, Poltek Negeri Pariwisata Palembang saya wajibkan lulusan setidaknya memiliki sertifikat standar regional, dengan begitu lulusan bukan hanya terserap di dalam negeri tapi juga di luar negeri," kata dia.

Bagi Arief, tidak masalah jika tenaga kerja lulusan Poltekpar memilih bekerja di luar negeri. Hal ini justru membanggakan karena Indonesia dapat mengirimkan tenaga kerja berlatar skill, bukan seperti selama ini hanya dikenal sebagai pengimpor tenaga kerja bukan ahli.

"Banyak yang bertanya, kenapa saya kasih izin mereka kerja di luar negeri, padahal sudah susah-susah dilatih di dalam negeri. Tidak sayangkah? karena dalam negeri sedang membutuhkan. Semula saya berpikir demikian, namun setelah mendapatkan kenyataan bahwa selama ini Indonesia disepelekan, justru saya berpikir sebaliknya," kata dia.

Pertumbuhan sektor pariwisata demikian pesat di dalam negeri akan tetapi belum sejalan dengan jumlah pendapatan para tenaga kerjanya.

Sejauh ini, hampir 100 persen lulusan Poltek Pariwisata dan Sekolah Tinggi Pariwisata di Tanah Air terserap pasar. Malahan Arief menggaransi bahwa ada 30 persen lulusan telah bekerja di luar negeri.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP