Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menko Darmin Prediksi Ekonomi Melambat di Akhir 2018, Ini Pemicunya

Menko Darmin Prediksi Ekonomi Melambat di Akhir 2018, Ini Pemicunya Darmin Nasution. ©2017 merdeka.com/anggun situmorang

Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2018 kembali akan mengalami perlambatan. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di kuartal akhir 2018 ini hanya sampai angka 5,14 hingga 5,15 persen saja.

Sebelumnya, pada kuartal III-2018, pertumbuhan ekonomi juga melambat menjadi 5,17 persen setelah sebelumnya pada kuartal II-2018 tumbuh sebesar 5,27 persen. Angka-angka tersebut meleset dari target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang dipatok sebesar 5,2 persen.

Padahal, target 5,2 persen tersebut sudah lebih rendah dari target awal terdapat pada asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,4 persen. Target tersebut direvisi dari 5,4 persen menjadi 5,2 persen dengan pertimbangan kondisi dan tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

"Pertumbuhan di kuartal IV-2018 inginnya sih 5,2 – 5,3 persen, tapi mungkin akan sedikit di bawah 5,1 persen sehingga setahun ini mungkin (pertumbuhan ekonomi) tidak sampai 5,2 persen. Mungkin 5,14 persen atau 5,15 persen," kata Menko Darmin saat dijumpai di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/12).

Menko Darmin menjelaskan beberapa hal yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut. Antara lain adalah faktor kondisi ekonomi global yang saat ini tengah memanas akibat trade war atau perang dagang antara dua negara raksasa Amerika Serikat dan China. Tidak hanya Indonesia, dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi negara lain pun terkena imbas kondisi tersebut.

Bahkan pertumbuhan kedua negara tengah bertikai tersebut dipastikan melemah di tahun ini. Mengutip data World Bank, pertumbuhan ekonomi AS melemah sekitar 0,5 persen di tahun ini menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 3 persen.

Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi pesaingnya, yaitu China juga diprediksi melemah 0,3 persen menjadi 6,6 persen di tahun ini setelah tahun lalu mencapai angka 6,9 persen.

Situasi perang dagang saat ini memang menjadi kambing hitam melambatnya pertumbuhan ekonomi RI. Namun dibanding negara lain, dampak yang diterima RI tidak terlalu besar sebab porsi ekspor RI pada dua negara tersebut hanya 20 persen saja.

"Beda dengan Malaysia besaran ekspor ke negara itu (AS dan China) 70 persen. Vietnam 100 persen, itu luar biasa," tutupnya. (mdk/idr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP