Menko Darmin: Defisit transaksi berjalan lebih luas dan susah ditekan
Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal II-2018 tembus USD 8 miliar atau 3,0 persen dari PDB. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar USD 5,7 miliar atau 2,2 persen dari PDB.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, defisit ini sudah cukup besar. Pemerintah akan segera mengambil langkah untuk memperkecil defisit transaksi berjalan.
"Agak besar itu. Ya artinya kalau sampai 3 persen itu pemerintah harus menyiapkan langkah langkah untuk segera membuat dia turun ke bawah," ujar Menko Darmin di Hotel Borobudur, Senin (13/8).
Menko Darmin menjelaskan, defisit transaksi berjalan memiliki cakupan yang lebih luas karena memiliki keterkaitan dengan saham dan obligasi yang di beli di Indonesia. Untuk itu, defisit transaksi berjalan lebih susah ditekan dari pada defisit neraca perdagangan.
"Transaksi berjalan itu lebih luas dan lebih susah ditekan. Oleh karena itu menyangkut barang jasa dari misal dari saham dari obligasi asing yang beli di sini. Nah itu dia semua yang buat defisit sehingga kebijakan yang harus dibuat harus lebih banyak kemungkinannya kalau urusan transaksi berjalan," jelasnya.
Hingga kini, kata Darmin, pemerintah belum menyiapkan strategi khusus menghadapi pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut. Namun dia memastikan, pemerintah akan memperbaiki terlebih dahulu defisit neraca perdagangan.
"Saya belum bisa bilang. Kita akan, dia pasti menyangkut perdagangan barang perdagangan jasa kemudian profit dari investasi dan sebagainya," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya