Menikmati kesejukan dan keindahan alam di Pasir Langlang Purwakarta
Merdeka.com - Beragam cara bisa dilakukan untuk menikmati akhir pekan, setelah bergelut dengan banyaknya kegiatan agar bisa lepas dari seluruh kepenatan. Salah satunya dengan menikmati pesona alam yang utuh dan masih perawan di salah satu sudut wilayah Jawa Barat.
Tempat wisata yang satu ini bisa menawarkan segalanya, terutama berhubungan dengan keindahan alam. Pasir Langlang, terletak di perbukitan Desa Pusaka Mulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta. Nama tempat wisata ini memang tidak sepopuler objek wisata alam lainnya, bahkan masih tersembunyi di balik kekayaan yang dimiliki Purwakarta.
Lokasi wisata Pasir Langlang yang berada di sebelah selatan Kabupaten Purwakarta ini disematkan oleh warga sekitar. Kata Pasir, berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti bukit, sedangkan Langlang merupakan istilah yang biasa digunakan untuk merujuk pada suasana pengembaraan.
Jika berkunjung ke tempat wisata tersebut, pengunjung bakal disuguhi pemandangan indah akan hamparan perbukitan dengan deretan pohon pinus yang berjejer serta tertata rapih. Udara segar juga menjadikan Pasir Langlang salah satu lokasi wisata yang bebas dari polusi.
Untuk mencapai wisata yang terbilang asri ini, harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari pusat kota Purwakarta menuju daerah selatan, melalui Jalan Kapten Halim, kemudian jalan Purwakarta - Wanayasa menuju perbatasan Kabupaten Subang selatan. Sesampainya wilayah Kiara Pedesa, di Desa Pusaka Mulya setiap wisatawan akan menemukan petunjuk jalan menuju kawasan Wana Wisata Pasir Langlang tersebut.

pasir langlang purwakarta ©2017 Merdeka.com/bram salam
Sampai di lokasi, wisatawan akan dibuat seolah 'nyawang' atau dalam bahasa Indonesia berarti mengenang. Ya, suasana hening di wilayah tersebut mengingatkan wisatawan pada nuansa kolosal pengembaraan para pendekar pada masa kerajaan Sunda masa lalu.
Eit, jangan lupa sebelum masuk, pengunjung bakal ditarik biaya sebesar Rp 5 ribu sebagai tiket masuk. Biaya tambahan lain bakal dipungut juga bagi yang akan melakukan camping ground, bayarannya sebesar Rp 10 ribu, plus Rp 330 ribu untuk biaya sewa guide, tenda, sleeping bag, matras, dan satu set alat masak.
Sementara, uang sebesar Rp 15 ribu harus disiapkan oleh wisatawan jika ingin menikmati hammock atau ayunan yang dibentangkan di antara dua batang pohon pinus.
Sebagai lokasi wisata yang menawarkan keindahan alam, maka keberadaan pengunjung tidak lepas dari kegiatan berfoto dengaan menggunakan latar belakang alam. Seperti areal perkebunan pinus, hingga perbukitan dan persawahan. Ada juga yang paling menarik yaitu berswafoto menggunakan latar gunung Burangran, yang dikenal menyimpan kekuatan mistis dari 'karuhun' (orang terdahulu) oleh masyarakat setempat.
Bagi yang ingin lebih terasa romantis, proses berfoto bisa dengan latar belakang hutan pinus sambil duduk di kursi kayu yang disediakan, serta gubuk atau saung, yang telah disediakan pihak pengelola.
Salah satu pengunjung, Dede Mulyadi (34). Pria asal Bandung ini, datang bersama teman - temannya dan sudah dua kali berkunjung ke Pasir Langlang. Di lokasi tersebut ia dapat menikmati sunyinya alam, udara segar, hingga ketenangan bisa didapatnya. Selain itu, Dede yang juga seorang videografer mengaku selalu dapat inspirasi untuk menekuni pekerjaannya seusai datang ke Pasir Langlang.
"Pertama dari suasana yang benar - benar sunyi dan jauh dari kebisingan. Udara sejuk juga membuat pikiran tenang serta banyak inspirasi," kata Dede, Sabtu (3/2).
Sementara, dari keterangan pihak pengelola yang dipercaya Perhutani untuk menjaga keberadaan hutan pinus tersebut menyebutkan, rata-rata wisatawan yang datang berasal dari segmen remaja dan pecinta alam dari berbagai daerah di Jawa Barat.
"Kalau sehari-hari saya lihat kebanyakan remaja dan pecinta alam ya. Sering juga ada yang pre-wedding di sini," salah seorang pengelola, Nandang Mulya Nugraha.
Di lihat dari atas, kawasan ini terlihat seperti toping hijau yang menutupi permukaan tanah. Hal ini karena masyarakat setempat dilarang menebang pohon yang tumbuh di kawasan tersebut, mereka hanya dibolehkan memungut ranting kayu yang jatuh untuk digunakan sebagai bahan bakar memasak sehari-hari. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya