Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Startup Hijau dan Caranya Mendapatkan Pendanaan

Mengenal Startup Hijau dan Caranya Mendapatkan Pendanaan Ilustrasi investasi. ©2012 Shutterstock/Gorilla

Merdeka.com - Bisnis hijau kini semakin dilirik kaum muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap ide-ide seputar keberlanjutan dan lingkungan. Para investor pun semakin giat mencari startup hijau yang memiliki solusi menjanjikan.

Isu perubahan iklim yang kian marak memunculkan gagasan bisnis yang terkait dengan pelestarian lingkungan. Ditambah lagi, pemerintah sedang gencar mendukung program ekonomi hijau, sehingga meningkatkan awareness publik tentang eksistensi perusahaan hijau.

Hal ini pulalah yang mendorong pertumbuhan startup hijau. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan startup hijau?

Atika Benedikta, Impact Investment Lead dari Angel Investment Network Indonesia (ANGIN), menjelaskan, startup hijau merupakan usaha yang memiliki target di tiga area, yaitu people, profit, dan planet. Artinya, apa pun yang dilakukan, baik dalam solusi atau produk yang ditawarkan, proses bisnis, maupun rantai nilai, mencakup tiga aspek tersebut.

“Jadi, sebuah startup hijau perlu punya revenue generation tapi juga tidak merusak atau bahkan memberi dampak positif terhadap lingkungan dan manusia (komunitas, anggota tim, dan stakeholder),” kata Atika dalam keterangan resmi, Jakarta, Jumat (18/2).

Atika menambahkan, startup hijau tak harus selalu menekankan pada teknologi, melainkan pada high-growth innovation. Usaha itu bisa dijalankan secara offline atau tidak digital seratus persen, tapi ada inovasi yang memungkinkan usaha tersebut tumbuh secara cepat.

"Meski demikian, kerap kali teknologi menjadi bagian penting karena merupakan faktor yang bisa mempercepat peningkatan skala usaha," katanya.

Atika menjelaskan, startup hijau tak harus sangat inovatif sehingga mahal dari sisi teknologi. Bisa jadi solusi yang dibutuhkan tidak harus serumit itu. Ketika sebuah startup sudah berkembang dan punya sumber daya yang lebih besar, nantinya dia bisa mengadopsi teknologi yang lebih sophisticated.

"Mulailah dulu dari teknologi yang sederhana. Perubahan proses bisnisnya bisa kecil tapi signifikan. Daripada bermimpi terlalu besar tapi tidak mulai-mulai," kata Atika.

Hal yang sering menjadi tantangan bagi sebuah startup hijau adalah funding atau pembiayaan. Dan, mendapatkan investor bukan hal yang mudah dan cepat. Walaupun, startup hijau sangat relevan untuk zaman sekarang karena awareness konsumen sudah terbangun.

Cara Startup Hijau Dapatkan Pendanaan

hijau dapatkan pendanaanRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

1. Pahami Kebutuhan

Di dunia bisnis terdapat berbagai macam tipe pendanaan. Startup hijau diarahkan untuk mendapatkan pembiayaan dari NGO investor yang nantinya mengarah pada venture capital. Tapi, selain itu, terdapat tipe pendanaan lain, seperti microfinance atau working capital loan (kredit modal kerja). Karena itu, pengusaha sektor ini perlu menyesuaikan kebutuhan usaha dan tipe pendanaan yang tersedia.

"Pastikan Anda tahu benar membutuhkan modal untuk apa. Mungkin saja startup Anda lebih tepat mendapatkan dana dari kredit modal kerja, bukan dari NGO investor, karena Anda membutuhkan dana besar untuk produksi," kata Atika.

Salah satu faktor yang membuat sebuah startup tidak mendapatkan pembiayaan adalah capital mismatched. Misalnya, pengusaha membutuhkan modal besar karena perlu membeli mesin yang sangat mahal. Tapi, investor yang tersedia sekarang bukan investor untuk mesin, melainkan investor yang melihat pertumbuhan teknologi digitalnya.

"Bukan salah siapa-siapa, hanya berbeda kebutuhan saja. Jadi, Anda perlu mencari investor yang bisa mengubah gaya investasinya," kata Atika.

2. Cari Tahu Investor yang Bergerak di Sektor yang Sama

Jenis usaha yang termasuk dalam sektor hijau terbilang luas. Sejumlah perusahaan sudah jelas fokus pada solusi lingkungan, misalnya waste management, agrikultur berkelanjutan, dan energi terbarukan. Tapi, ada juga startup yang dikategorikan sebagai startup hijau, meskipun inti bisnisnya bukan pada penanganan isu lingkungan. Misalnya, produk fashion yang prosesnya pembuatannya menggunakan pewarna natural dan proses pengolahan limbahnya tidak merusak lingkungan.

"Karena tipe sektor yang berbeda, misalnya ada energi dan ada consumer good, maka Anda perlu cari tahu siapa investor yang sudah familiar di sektor tersebut," kata Atika.

Selain itu, pahami juga tipe investornya. Kalau startup menawarkan solusi jangka panjang yang membutuhkan dana besar dalam jangka panjang juga, artinya tidak cocok dengan investor yang menginginkan pertumbuhan bisnis jangka pendek dan dalam waktu cepat. "Appetite antara startup dan investor harus cocok," kata Atika.

Edwin Tan, co-founder Evo&Co yang membuat produk kemasan dari bahan ramah lingkungan, bercerita, berbekal pengalamannya yang panjang di dunia investasi, pihaknya bisa mendapatkan investor yang punya perhatian khusus terhadap isu lingkungan, baik individu maupun korporasi.

"Karena pengalaman itu, kami jadi tahu latar belakang investor. Apalagi, tugas saya di perusahaan ini memang mencari investor. Ketika perusahaan membutuhkan dana, saya yang akan mencari dana itu," kata Edwin.

3. Pastikan Punya Tim yang Tepat

Investor akan melihat apakah anggota tim di balik sebuah startup adalah orang-orang yang tepat, termasuk pendirinya. Atika menjelaskan, investor akan menggali, apakah pendiri startup ini merupakan orang yang tepat? Apakah ada expert yang mengerti soal sektor hijau? Apakah ada key people yang punya akses menuju sumber daya bahan baku?

"Karena usahanya bersifat hijau, maka bahan bakunya tentu akan dipilah. Apakah ada anggota tim yang punya akses ke market? Apakah tim mengerti perilaku konsumen yang percaya pada solusi hijau yang ditawarkan?” jelasnya.

Atika menyarankan, founder sebuah startup hijau sebaiknya tidak satu orang. Karena, dia tidak bisa melakukan semuanya sendirian saja. Misalnya, Anda berminat untuk bergerak di pengelolaan sampah, tapi bukan ahli di bidang tersebut. Diperlukan co-founder untuk mengisi skill yang tidak Anda miliki.

"Jadi, untuk mendirikan startup hijau, Anda tak perlu jadi ahli di sektor hijau, tapi bisa menjalin kemitraan dengan co-founder yang punya kesamaan visi," tandasnya.

4. Validasi Ide

Berdasarkan pengamatan Atika, ada startup hijau yang solusinya terlalu inovatif. Akibatnya, pasar belum siap untuk menggunakannya, karena harganya jadi terlalu mahal. "Ada cara yang lebih sederhana dan tidak harus terlalu inovatif untuk sekarang ini. Jadi, perlu memanfaatkan momentum yang tepat, sehingga solusinya tervalidasi secara bisnis," kata Atika.

Karena itu, dia menyarankan, sebelum maju ke investor, pastikan Anda sudah melakukan validasi ide. Apakah benar solusi yang dihipotesiskan memang dibutuhkan oleh pasar? Bisa jadi pengusaha berpikir bahwa itu merupakan solusi paling tepat. Tapi, pada kenyataannya tidak tepat bagi pengguna. Saat melakukan proses validasi ke pasar, akan terbangun knowledge tentang pasar dan masukan tentang produk itu.

Untuk startup hijau, data memainkan peran penting. Misalnya, tujuan besar sebuah startup adalah mengurangi plastik. Namun, dalam prosesnya malah justru menambah emisi karbon. Itu tidak ideal. Hanya saja, paling tidak tujuan besarnya tercapai, kemudian dia perlu mencari cara untuk mengurangi emisi karbon.

"Dampak dari startup hijau seperti ini tidak terlihat di tahun depan atau dua tahun dari sekarang. Mungkin baru akan terlihat pada tahun keenam. Itulah mengapa Anda perlu punya data yang menunjukkan bahwa solusi yang Anda tawarkan bisa mengurangi emisi karbon di tahun kesekian. Nantinya startup terkait sampah akan engage dengan pemerintah dan korporasi lebih besar. Mereka pasti akan memerlukan data agar bisa percaya bahwa solusi Anda memang tepat," kata Atika.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP