Mengenal Istilah Ekonomi Hijau dalam Pembangunan Infrastruktur Indonesia
Merdeka.com - Istilah konsep Green Economy atau ekonomi hijau semakin sering dikampanyekan oleh berbagai pihak. Istilah ini dianggap penting karena bisa menyelamatkan bumi dari masifnya pembangunan proyek di berbagai belahan dunia.
Lalu apa itu Green Economy?
President Direktor Indonesia Infrastructure Finance, Reynaldi Hermansjah menjelaskan, secara rinci siklus gambaran Green Economy. Dia mengatakan, zaman dahulu pembangunan infrastruktur atau proyek hanya dikenal istilah investasi tradisional.
"Dulu kita mengawali investasi adalah tradisional investasi, itu hanya berbasis aspek resiko dan tingkat pengembalian yang didapatkan," kata Reynaldi dalam bincang-bincang diskusi online, Jakarta, Rabu (23/2).
Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan kepedulian terhadap alam, pembangunan infrastruktur dan proyek mulai mempertimbangkan dampak yang akan dihasilkan. Setiap pembiayaan proyek kemudian harus berlandaskan kelestarian lingkungan.
"Kemudian konsep itu bergerak pada pembiayaan yang mulai mengurangi impact dari dampak tersebut. Misalnya pembangunan minihidro, membutuhkan area yang luas, bisa lebih ringkes. Kita juga mulai dorong pada produk yang sustainable dan ecofriendly," kata Reynaldi.
Dia menambahkan, pembangunan pembangkit listrik dari batubara misalnya, diupayakan memberikan dampak seminimal mungkin terhadap kelestarian lingkungan. Artinya, setiap pembangunan harus berdasar kepada sosial environment.
"Bahwa pembangunan proyek Green Economy mempertimbangkan social environment. Sehingga pemahaman kita secara keseluruhan baik manajemen, bisnis owner dan pihak yang terkait dengan proyek, kita punya sistem bagaimana menyiapkan proyek dari awal, kontruksi dan beroperasi," tandasnya.
Ini Penjelasan Soal Ekonomi Hijau dan Biru
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKantor Staf Kepresidenan (KSP) menjelaskan upaya pemerintah untuk menangkap berbagai investasi tidak akan mengabaikan prinsip ekonomi hijau dan ekonomi biru untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden (KSP) Bustanul Arifin menjelaskan, konsep ekonomi hijau pada pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah pembangunan ekonomi yang juga mempertimbangkan keberlanjutannya.
Sementara itu ekonomi biru adalah adalah pembangunan ekonomi yang menekankan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan sosial, serta pada saat yang sama mampu mengurangi risiko lingkungan hidup dan kelangkaan ekologis.
"Secara operasional strategi ekonomi hijau dan ekonomi biru senantiasa diterapkan di lapangan, dengan menekankan pada kekhasan atau spesifik lokasi dan sistem sosial kemasyarakatan yang melingkupinya," kata Bustanul di Jakarta, dikutip Antara, Selasa (17/8).
Dia mengatakan ada kemiripan antara ekonomi hijau dan ekonomi biru. Keduanya menekankan prinsip meminimalisir sampah atau zero waste dan mendukung prinsip reduce, reuse, and recycle (3R).
"Setiap dua tahun Indonesia telah menyampaikan progres pencapaian secara berkala seluruh tujuan SDGs itu dalam suatu Voluntary National Review (VNR). Pada VNR terakhir tahun 2021 telah disampaikan melalui High-Level Political Forum (HLPF) on Sustainable Development bersama 44 negara lain di dunia, serta tersedia secara daring dan bisa diakses publik," imbuhnya.
Indonesia juga berkomitmen untuk melaksanakan seluruh 17 poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Keterangan Bustanul ini mengelaborasi pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sidang Tahunan MPR, DPR dan DPD, Senin (16/8) saat membahas ekosistem investasi dan kolaborasi di dunia usaha untuk memperkuat perkembangan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Hal itu terkhusus ke arah ekonomi hijau dan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Sepanjang periode Januari sampai Juni 2021, realisasi investasi Indonesia, tidak termasuk sektor hulu migas dan jasa keuangan, sedikitnya Rp442,8 triliun, dengan rincian 51,5 persen di Luar Jawa, dan 48,5 persen di Jawa. Investasi ini menyerap lebih dari 620.000 tenaga kerja Indonesia.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya