Mengapa uang palsu banyak beredar di pasar tradisional?
Merdeka.com - Tidak dipungkiri, tingkat konsumsi masyarakat melonjak tajam saat Ramadan dan Lebaran. Porsi belanja semakin besar. Secara sadar atau tidak, masyarakat merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran.
Kampanye produk yang diluncurkan saat Ramadan atau yang bisa digunakan untuk menyambut hari kemenangan, Idul Fitri, cukup berhasil menjadi magnet yang mengarahkan masyarakat menjadi lebih konsumtif dari biasanya. Apalagi dengan adanya tawaran diskon atau potongan harga.
Tingginya tingkat konsumsi berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah uang beredar di pasar dalam negeri. Kondisi ini ternyata menjadi celah aksi atau tindak kriminal peredaran uang palsu.
Uang palsu menyelinap masuk di tengah besarnya gelombang peredaran uang yang dibelanjakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya selama Ramadan dan Lebaran.
"Peredaran mata uang palsu memang selalu menjadi fenomena setiap tahun karena kebutuhan masyarakat akan uang jelang Lebaran selalu mengalami peningkatan," ujar pengamat mata uang Rully Nova kepada merdeka.com di Jakarta, Senin (22/6).
Berulang kali pihak kepolisian menangkap pelaku peredaran uang palsu. Namun peredaran uang palsu seolah tak pernah surut. Bahkan berpotensi semakin membesar saat Ramadan dan Lebaran. Peredarannya pun semakin luas, tidak hanya di daerah pelosok, tapi juga di kota besar.
Kecanggihan teknologi yang diaplikasikan dalam alat pendeteksi uang, tidak menyurutkan niat mengedarkan uang palsu. Pelaku peredaran uang palsu seolah selalu menemukan celah yang bisa dimanfaatkan. Pasar tradisional kini menjadi lokasi peredaran uang palsu. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya