Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menelusuri kasus suap lintas negara yang menjerat mantan direktur utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Emir bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dari Rolls Royce dalam kasus pengadaan mesin pesawat.
Perusahaan penyedia mesin asal Inggris, Rolls-Royce sendiri juga sudah mengakui telah menyuap Garuda Indonesia dalam pelaksanaan tender penyediaan mesin jet Trent 700. Pihak Rolls-Royce pun meminta maaf atas kejadian yang menimpa perusahaan mitranya.
Serious Fraud Office (SFO), sejenis KPK, di Inggris mengatakan, Rolls Royce menyuap para pejabat atau pembuat kebijakan di Indonesia, Thailand, India, Russia, Nigeria, China and Malaysia agar menggunakan mesin buatan mereka selama beberapa tahun terakhir.
SFO menyebut di Indonesia, Rolls-Royce setuju untuk menyuap seorang perantara dengan uang USD 2,2 juta atau Rp 28,6 miliar. Tak hanya itu mobil mewah Rolls-Royce Silver Spirit juga diberikan sebagai bonus.
Hal ini tidak dibantah oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. "Bahwa ada tiga jenis mesin yang bisa dipakai Airbus, apakah Rolls-Royce pilihan yang terbaik untuk Airbus? Kalau memang bagus untuk Airbus milik Garuda, ya bersyukur. Tetapi jangan sampai karena ada suap jadi mereka memilih itu sehingga KPK sangat serius menangani hal itu," katanya di Jakarta, Kamis.
Menurut Syarif, pengadaan pesawat dan mesin pesawat itu dilakukan saat tersangka, Emirsyah Satar menjadi Direktur Utama periode 2005-2014 di mana setiap tahun jumlah pengadaannya berbeda-beda.
"Khusus yang berhubungan dari mana asal suap ini kami belum bisa kemukakan, tetapi ini bukan hanya kerja KPK saja tetapi ada kerja sama dari lembaga penegak hukum anti korupsi yang lain yang melibatkan beberapa negara seperti Inggris, Singapura dan Amerika Serikat," tuturnya.
Pembelian mesin Rolls Royce ini sempat membuat heboh Indonesia. Bahkan Presiden Jokowi dan Menteri BUMN, Rini Soemarno langsung terbang ke Inggris untuk melihat pembelian mesin pesawat ini. Silakan klik selanjutnya.
Advertisement
Pada 20 April 2016 silam, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menemui Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, di Downing Street Number 10, London, Selasa (19/4) Pukul 11.30 waktu setempat. Selain membicarakan masalah ekstremisme yang dihadapi oleh semua negara di masa sekarang ini, juga dibahas upaya untuk mempererat hubungan perekonomian kedua negara.
"Hari ini kedua pemimpin mereview kemajuan, dan juga menandatangani kerja sama melalui MoU antara Airbus dan Garuda. Kesepakatan besar lebih dari 1 miliar pounds (setara Rp 18,8 triliun). Harapan kami jumlah deals yang ditandatangani di London lebih besar dari negara lain selama tahun ini," kata Dubes Inggris di Jakarta, Moazzam Malik, seperti ditulis situs setkab di Jakarta, Rabu (20/4).Menurut Moazam, kesepakatan itu adalah pembelian 14 pesawat baru oleh Garuda Indonesia. Sebagian komponen pesawat dibuat di Inggris dan sebagian dibuat di negara lain di Eropa. Tapi pesawat ini menggunakan mesin Roll Royce.
Selain itu, juga ada kesepakatan untuk bekerjasama antara Garuda Indonesia dan Roll Royce untuk melatih junior, insinyur dan teknisi Indonesia di Indonesia.
Setelah Jokowi, Menteri BUMN Rini Soemarno juga bertandang ke Eropa yaitu pada Juli 2016. Dalam rencananya saat itu, Rini akan berkunjung ke perusahaan teknologi Siemens AG di Jerman.
Menteri Rini menuturkan, kepergiannya ke Jerman dan Inggris untuk menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan di Benua Eropa tersebut.
Setelah Jerman, Rini melanjutkan perjalanan ke Inggris yang disebutnya untuk menjajaki lebih lanjut kerja sama antara PT Garuda Indonesia (Persero) dengan Airbus dan Rolls Royce.
"Terus saya ke inggris, bicara dengan Airbus sama Rolls Royce yang punya mesinnya. Iya (terkait Garuda)," tutup dia.