Menengok ambruknya ekonomi Saudi dan PHK 50.000 pekerja
Merdeka.com - Murahnya harga minyak dunia menjadi perang terbuka antara Arab Saudi dan Amerika Serikat. Pemerintah Arab Saudi ngotot tak ingin memangkas produksi minyaknya. Bahkan, Arab Saudi menginginkan harga minyak dunia tetap berada di bawah USD 40 per barel.
Dilansir Forbes, Pemerintah Arab Saudi khawatir melakukan pemotongan produksi. Arab Saudi dicurigai ingin menghancurkan ekonomi Amerika Serikat. Amerika Serikat pun juga menjadi salah satu pemasok dan produsen minyak mentah dunia.
"Arab Saudi ingin menjaga harga di bawah USD 40 per barel dalam jangka pendek untuk menghancurkan ekonomi Amerika. Dalam jangka panjang, Arab Saudi ingin merebut kembali pasar minyak mentah dunia. Dalam perang ekonomi, Arab Saudi habis-habisan melemahkan perekonomian Amerika," ujar Analis Forbes Panos Mourdoukoutas, Selasa (19/4).
Dalam kasus ini, Arab Saudi berhasil membuat Amerika Serikat bergantung pada harga minyak dunia. Setelah hancur, Arab Saudi bakal langsung menggenjot kenaikan harga minyak dunia dan membiarkan harga minyak naik dengan cepat.
Alasan lainnya, Arab Saudi juga ingin menghancurkan ekonomi Rusia dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). "Saudi meningkatkan produksi minyak untuk merusak perekonomian Rusia," kata dia.
Panos menjelaskan Arab Saudi sengaja menghancurkan ekonomi Rusia. Sebab, negeri beruang merah ini menjadi salah satu penyokong dana organisasi radikal tersebut. "Dan satu-satunya cara untuk melakukan itu pada saat ini adalah untuk menjaga harga minyak tetap rendah," jelas dia.
Kendati demikian, strategi ini tidak akan bekerja. Rencana itu akan menjadi bumerang bagi Arab Saudi sendiri.
Ekonomi Saudi jadi berantakan, dan bahkan perusahaan di Saudi telah melakukan PHK massal. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya