Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menebak arah nilai tukar Rupiah pasca menguat tajam di awal Oktober

Menebak arah nilai tukar Rupiah pasca menguat tajam di awal Oktober rupiah. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) menguat tajam pada awal Oktober ini. Pertengahan September lalu, nilai tukar Rupiah sempat melemah tajam hingga menyentuh titik terlemahnya di level Rp 14.691 pada 29 September, nilai tukar terendah selama tujuh tahun terakhir.

Namun, pada awal Oktober 2015, posisi Rupiah mulai kembali menguat, masuk ke level 13.000 per dolar Amerika Serikat. Perdagangan kemarin, Rupiah ditutup menguat 198 poin atau 1,45 persen. Rupiah ditutup di level Rp 13.418 per USD, atau menguat dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yaitu di level Rp 13.616 per USD.

Banyak dugaan penyebab Rupiah kembali menguat pada awal Oktober 2015. Bank Indonesia mengklaim keyakinan investor terhadap pemerintah Indonesia sudah pulih. Ini terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai 4,4 persen dalam tiga hari saja.

"Tadinya investor asing mengatakan pemerintah tidak pernah serius melakukan structural reform. Paket kebijakan itu mendorong investor masuk, lalu pemerintah meng-adress dengan debirokratisasi dan deregulasi dalam rangka mendorong investor dan devisa masuk," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara, Jakarta, Jumat (9/10).

Menurut Mirza, penguatan rupiah juga didorong sentimen The Federal Reserve diperkirakan bakal menunda penaikan suku bunga acuannya hingga tahun mendatang.

Pengamat Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan, penguatan Rupiah kali ini murni terjadi karena faktor eksternal melemahnya dolar Amerika Serikat (USD). Faktor eksternal dinilai sedang bagus untuk mendongkrak perekonomian dalam negeri.

"Kalau pergerakan terlalu cepat sekarang ini bukan karena faktor fundamental kita, tapi ada di faktor sentimen. Salah satunya eksternal tapi bisa juga internal, tapi sedikit," tegas Enny.

Faktor eksternal lainnya yang mendongkrak penguatan Rupiah adalah rilis angka pengangguran di Amerika Serikat yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Tingginya pengangguran di Negeri Paman Sam menandakan ekonomi mereka belum membaik. Dengan demikian, kemungkinan bank sentral Amerika atau The Fed menaikkan suku bunga menjadi mustahil.

"Maka belum ada ruang untuk The Fed untuk menaikkan suku bunga. Menyebabkan orang tidak terus memburu dolar Amerika. Kemudian ada juga juga aliran uang ke emerging market yang tadinya ke Amerika, sekarang balik lagi," kata Enny.

Namun demikian, apakah membaiknya nilai tukar Rupiah ini masih akan terus berlanjut? (mdk/idr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP