Mendag ingatkan Jepang, Indonesia tak sudi ekspor tambang mentah
Merdeka.com - Kebijakan pelarangan ekspor tambang mentah sejak 12 Januari lalu disebut-sebut sebagai faktor utama defisit neraca perdagangan menyentuh kisaran USD 430,6 juta. Langkah pemerintah sudah menuai protes beberapa negara, di antaranya Jepang, karena industri stainless steel mereka kekurangan pasokan bahan baku.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui untuk jangka pendek, larangan ekspor itu merugikan kinerja sektor riil Tanah Air, sekaligus beberapa negara mitra. Akan tetapi, program hilirisasi tambang ini sudah diniatkan sejak 2009.
Secara khusus, Lutfi mengaku sudah mengajak bicara pengusaha Jepang, agar menghormati keputusan Indonesia yang tak lagi mengekspor mineral mentah.
"Ini komitmen nasional, akan terus kita jalankan. Saya utarakan ke teman-teman Jepang, bukan saja kini trennya industri mendekati pasar, tapi industri harus dekat ke komoditasnya," ujarnya di Jakarta, Selasa (4/3).
Lutfi menilai struktur perdagangan bahan tambang di masa lalu tidak adil. Sebagai gambaran, bauksit adalah hasil tambang dari Indonesia. Dulu, bahan mentahnya harus dikirim ke Australia dulu untuk diolah menjadi ingot.
Bahan ingot ini lalu dikirim balik ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) di Sumatera Utara, baru kemudian diekspor ke pabrik otomotif Jepang. Produk jadinya, berupa mobil, diimpor oleh Indonesia.
"Proses seperti itu tidak mungkin lagi. Di masa mendatang kita ingin mengekspor barang jadi, setidaknya barang setengah jadi. Sekarang kita bersusah-susah dulu," kata Mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang ini.
Untuk sementara, Kementerian Perdagangan berpegang pada data bahwa potensi turunnya nilai ekspor akibat Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) ini mencapai USD 6 miliar per tahun.
Lutfi mengaku sudah menyiapkan beberapa strategi, supaya penurunan tidak terlalu tajam. Salah satunya menggenjot ekspor produk unggulan nonmigas. Dua komoditas yang akan dia perjuangkan dalam masa kerja 6 bulan ke depan adalah kayu olahan dan minyak kelapa sawit.
"Untuk kayu, sudah ada sistem baru SVLK sehingga bisa masuk Eropa. Kita juga akan jalankan diplomasi untuk sawit, sehingga produk sawit jangan diganggu di pasar Eropa," ungkapnya.
Mendag optimis, titik perubahan neraca perdagangan bakal terjadi Maret mendatang. Itu didasari oleh masih kuatnya kinerja ekspor nonmigas di tengah tren negatif yang biasa terjadi saban Januari.
Nilai tukar Rupiah juga menguat di pasar valas kemarin, selepas Badan Pusat Statistik mengumumkan defisit yang besar, berselang sebulan dari data perdagangan akhir tahun yang surplus.
"Rupiah nyatanya menguat, artinya kepercayaan pasar terhadap ekonomi kita secara struktural ternyata jauh lebih baik," kata Lutfi. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya