Mendag baru harus rukun dengan Mentan dan Menperin
Merdeka.com - Pekerjaan rumah utama dari Menteri Perdagangan (Mendag) baru, Muhammad Lutfi nampaknya bukan hanya soal menekan impor dan stabilitas harga pangan. Hubungan baik antar Kementerian juga harus dijaga. Tidak dipungkiri, Kemendag kerap bersebrangan dan sering kali tidak sepaham dengan Kementerian lainnya.
Pengamat Ekonomi Aviliani berharap, Muhammad Lutfi yang baru terpilih menjadi Menteri Perdagangan harus memiliki koordinasi yang apik dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian. Belum lepas dari ingatan kita saat kasus impor bawang putih hingga beras Vietnam, membuat kementerian ini saling menyalahkan.
"Tugasnya, bagaimana Mendag (Menteri Perdagangan), Menperin (Menteri Perindustrian), Mentan (Menteri Pangan) rukun untuk nantinya kebijakan mendukung industri dalam negeri. Sehingga harus bisa kerja sama itu wajib hukumnya karena biasanya kan terjadi perdebatan," ujarnya usai seminar bertajuk 'Kiat Pendanaan KPR Saat Bunga Tinggi' di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (12/2).
Dia juga menekankan terkait Undang-undang Perdagangan yang baru disahkan. Mendag yang baru harus bisa menggunakan payung hukum ini untuk mengatasi harga pangan yang kerap bergejolak serta pasokannya yang selalu kurang.
"UU Perdagangan nanti dalam Peraturan Pemerintah (PP) nya harus aplikabel karena di UU itu semangat nasionalismenya tinggi. Tapi apakah semangat ini bisa cocok dengan kondisi kita," jelas dia.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya secara resmi mengumumkan sosok pengganti Gita Wirjawan yang telah resmi mengundurkan diri sebagai Menteri Perdagangan. Presiden mengakui telah menerima surat pengunduran diri resmi dari Gita.
"Saya menyimak yang jadi alasan, saya bisa terima dan setujui sejalan dengan apa yang dilakukan Gita Wirjawan sebagai peserta konvensi capres sebuah partai politik jadi dikhawatirkan akan mengganggu tugasnya sebagai mendag. Oleh karena itu saya terima dan setujui pengunduran dirinya," ujar Presiden di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/2).
Kepala Negara mengaku telah melakukan fit and proper test pada mantan duta besar RI di Jepang, Muhammad Lutfi. Menurut SBY, Lutfi bukan orang baru dan telah berpartisipasi sekaligus memberi kontribusi nyata. Salah satunya saat menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Saat itu, kata presiden, Lutfi berhasil mengemban tugas menarik investasi di masa-masa ekonomi Indonesia tengah mengalami kesulitan.
"Dorong perekonomian Indonesia. Ekonomi bisa bertahan, pertumbuhan positif dan tinggi. Setelah itu jadi duta besar RI di Jepang, mitra strategis, perdagangan makin maju," kata SBY.
Dengan pertimbangan itu SBY melihat sosok M. Lutfi sebagai orang yang cocok menggantikan Gita Wirjawan. "Atas pengalaman dan penugasan berkaitan dengan ekonomi, investasi dan perdagangan dan setelah fit and proper test 2 hari lalu. Saya pandang Lutfi pantas dan tepat gantikan Gita Wirjawan," tegas Presiden.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya