Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Melihat upaya Sumijo di balik budidaya Kopi Merapi

Melihat upaya Sumijo di balik budidaya Kopi Merapi Sumijo. ©2017 Merdeka.com/Purnomo Edi

Merdeka.com - Sebagai salah satu negara penghasil kopi, di Indonesia memiliki banyak jenis kopi lokal. Dari ujung Papua hingga Aceh, tanaman kopi tumbuh subur dan dibudidayakan oleh para petani. Salah satunya adalah Kopi Merapi. Kopi Merapi merujuk pada tempat penanaman pohon kopi yang ada di lereng Gunung Merapi.

Dahulu kopi Merapi dikenal dengan nama kopi menir. Bentuk biji kopinya yang kecil-kecil menjadi alasan warga sekitarnya menamainya sebagai kopi menir. Awalnya, tanaman kopi di lereng Gunung Merapi diperkenalkan sejak masa kolonial Belanda.

Orang-orang Belanda mencoba menanam pohon kopi di sekitar lereng Merapi yang memiliki hawa sejuk. Meskipun sudah diperkenalkan sejak zaman kolonial Belanda, namun Kopi Merapi tak banyak dikenal oleh masyarakat. Baru beberapa tahun belakangan ini, masyarakat mengenal adanya Kopi Merapi.

Salah satu sosok yang berhasil mengembangkan dan mengangkat nama Kopi Merapi di mata penikmat kopi adalah Sumijo, warga Pentung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DIY. Lelaki berusia 40 tahun ini merupakan petani kopi sekaligus Ketua Koperasi Kebun Makmur di mana Kopi Merapi banyak dibudidayakan.

Saat ditemui beberapa waktu yang lalu di Koperasi Kebun Makmur yang berada di Jalan Kaliurang Km 20, Pakem, Sleman, Sumijo menceritakan awal mula tanaman kopi ditanam di Lereng Merapi hingga perkembangannya saat ini.

"Pembudidayaan kopi di Lereng Gunung Merapi sudah berjalan secara turun menurun. Tetapi budidayanya pasang surut. Sebab berada di lereng Gunung Merapi. Setiap kali terjadi erupsi, tanaman kopi juga mengalami kerusakan. Ini juga yang kemudian membuat jarang ditemukan ada pohon kopi di lereng Gunung Merapi dengan diameter batang yang besar," jelas Sumijo, pertengahan Maret yang lalu.

Sumijo menerangkan meskipun sudah dikenal sejak zaman kolonial, namun warga sekitar lereng Gunung Merapi mulai menanam secara intensif kembali pada tahun 1984. Kopi yang ditanam berjenis Robusta. Sedangkan kopi Arabika mulai dikembangkan di lereng Gunung Merapi pada tahun 1992.

Di lereng Gunung Merapi, para petani lebih banyak menjual hasil panennya dalam bentuk mentah atau biji basah. Hal ini membuat penghasilan dari menanam kopi menjadi tak maksimal.

"Saya mencermati harga ketika kopi dijual dalam bentuk mentah atau biji basah harga murah dan cenderung naik turun. Saya merasa kasihan kepada para petani yang untuk mendapatkan biji kopi membutuhkan masa tanam 3 hingga 4 tahun tetapi ketika dijual, harganya murah," kata Sumijo.

Berawal dari pemikiran itu, pada tahun 200, Sumijo kemudian menginisiasi pendirian Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Kebun Makmur. KUB didirikan untuk menyiasati agar harga kopi yang dijual para petani supaya harganya stabil dan tak dimainkan oleh para tengkulak.

.

"Di tahun 2004 kami di KUB Kebun Makmur mencoba untuk meningkatkan nilai ekonomis dari Kopi Merapi. Berbagai inovasi pernah kami lakukan supaya harga Kopi Merapi bisa mengalami peningkatan nilai ekonomis. Akhirnya pilihan jatuh untuk pembuatan kopi kemasan atau siap saji. KUB kemudian mencoba menjual biji kopi kering maupun kopi serbuk dalam bungkus kiloan dan sachet. Baik kopi Merapi jenis Arabika maupun Robusta," tutur Sumijo.

Berkat kerja keras Sumijo dan anggota yang tergabung dalam KUB, di tahun 2006, Kopi Merapi mendapatkan Sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Produk para petani di lereng Gunung Merapi ini juga berhasil menyabet SNI Award dan penghargaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tahun 2007 kami tidak menyangka bisa mendapat SNI Award, Tahun 2008 dan 2009 kami mendapat penghargaan dari Presiden. Tahun 2008, dari awalnya KUB berubah menjadi koperasi ," pungkas Sumijo.

Berkat kerja keras KUB, saat ini lahan kopi petani di wilayah lereng Merapi mencapai 300 an Hektar, meliputi daerah Cangkringan, Pakem dan sebagian di Turi. Sedangkan petaninya berjumlah 800 orang.

Harga jual kopi dari petani pun mengalami peningkatan tiga kali lipat. Saat ini, biji kopi basah untuk jenis Robusta dibeli dari petani dengan harga Rp 5.000 per Kg, Jenis Arabika Rp 6.000 per Kg. Sedangkan Biji kering untuk jenis Robusta Rp 20.000 per Kg - Rp 25.000 per kg, sedangkan jenis Arabika Rp 25.000 per Kg - Rp 35.000 per Kg. (mdk/hrs)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP