Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Masyarakat terlindung asuransi tak sampai 1 persen

Masyarakat terlindung asuransi tak sampai 1 persen Ilustrasi bisnis Asuransi. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Bank Dunia menilai masyarakat Indonesia masih kurang terlindungi oleh pemerintah. Dasarnya, kurang dari 1 persen masyarakat Indonesia memiliki asuransi.

Director World Development Report Norman Loayza menilai, kondisi ini menyebabkan Indonesia rentan terhadap guncangan kesehatan dan sosial bila terjadi krisis ekonomi.

"Indonesia kurang dari 1 persen yang punya asuransi. Punya asuransi itu penting apabila ada gangguan krisis, apabila kita punya krisis managemen risiko, bisa mengatasi ini," ujar Norman di The Energy Building, SCBD, Jakarta, Kamis (24/4).

Dalam hal ini, Norman menilai, Indonesia sangat jauh tertinggal oleh Negara Turki yang 93 persen masyarakatnya sudah tercover asuransi dengan tingkat kepuasan mencapai 67 persen. Dengan perlindungan asuransi, masyarakat Turki akan lebih mampu dalam menghadapi kemungkinan krisis yang akan terjadi.

"Seperti Negara Turki, mereka mengkonsolidasikan semua jaminan kesehatan bagi masyarakatnya, sudah meng-cover 93 persen, sudah melindungi jaminan kesehatan dan sosial, dan kepuasan mencapai 67 persen. Ini penting sekali untuk mekanisme manajemen risiko," kata Norman.

Norman mengatakan, sedikitnya terdapat 147 krisis finansial di 116 negara di dunia dan tertinggi terdapat di Argentina. Krisis finansial ini salah satu yang terkait adalah soal asuransi. Kebijakan perlu dilakukan adalah regulasi dan sektor makro ekonomi yang lebih konservatif.

"Setiap negara termasuk Indonesia harus dapat mengidentifikasi risiko, bagaimana kordinasi antara pemerintah dan masyarakatnya. Indonesia belum begitu fleksibel dalam kebijakan dibanding negara berkembang lainnya seperti Brazil dan Afrika Selatan," ujarnya.

Presiden World Bank Group Jim Yong Kim dalam forum yang sama menambahkan, melakukan persiapan menghadapi risiko biayanya jauh lebih murah dibanding saat risiko sudah terjadi.

"Misalnya dengan memiliki asuransi hujan, petani dapat berinvestasi dalam pembelian pupuk, bibit, dan lainnya ketimbang menaruh uang di bawah kasur. Asuransi ini untuk berjaga-jaga apabila terjadi kekeringan, ini salah satu antisipasi krisis juga," kata Kim.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP