Masih dihitung, tambahan subsidi Solar bisa sampai Rp 7 triliun
Merdeka.com - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menambah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar, di mana saat ini besarannya masih dalam perhitungan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto menyebut bahwa saat ini subsidi solar ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Rp 500 per liter.
Untuk mengurangi beban PT Pertamina (Persero) dalam menyalurkan Solar subsidi karena tidak ada kenaikan mengikuti harga pasar, muncul rencana penambahan subsidi untuk solar sekitar Rp 500 hingga Rp 1.000 per liter.
"Ya antara Rp 500 sampai Rp 1000 lah," kata Djoko, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (3/5).
Djoko mengungkapkan, dengan subsidi Rp 500 per liter dan kuota solar subsidi 7,5 juta kilo liter (kl) maka anggaran subsidi mencapai Rp 3,5 triliun. Jika subsidi ditambah Rp 500 per liter makan anggaran yang dibutuhkan Rp 3,5 triliun, sedangkan jika subsidi ditambah Rp 1.000 per liter maka anggaran yang dibutuhkan Rp 7 triliun.
Saat ini besaran tambahan subsidi solar belum ditetapkan, Djoko bersama timnya masih melakukan perhitungan untuk menentukan angka yang tepat.
"Kalau misalnya Rp 1000 jadi Rp 1.500 ya tambah Rp 7 triliun. Masih dihitung," tuturnya.
Menurut Djoko, tambahan subsidi untuk solar tidak mengandalkan APBN, rencananya pemerintah akan mengandalkan keuntungan penjualan minyak mentah bagian pemerintah.
Kenaikan harga minyak dunia belakangan ini mempengaruhi harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Sehingga realisasi besaran ICP sudah jauh di atas asumsi yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar US$ 48 per barel. Untuk diketahui, ICP saat ini sudah di atas USD 60 per barel.
Dari kondisi tersebut, maka keuntungan penjualan minyak mentah bagian negara lebih besar dari yang ditargetkan, dengan begitu keuntungan bisa dialihkan untuk mensubsidi Premium dan Solar tanpa menggunakan APBN.
"Duitnya itulah yang untuk penambahan subsidi berapa per liternya. Tanpa harus mengambil uang APBN yang sudah ditargetkan," tandasnya.
Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono
Sumber: Liputan6.com
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya