Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mantan Direktur ESDM Ungkap Kisah Menarik Saat Negosiasi Saham Freeport

Mantan Direktur ESDM Ungkap Kisah Menarik Saat Negosiasi Saham Freeport freeport. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Mantan Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Bambang Susigit mengungkapkan beberapa pengalaman menarik selama proses negosiasi divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

Pria yang sejak 1 Desember 2018 lalu memasuki usia purna bakti ini mengaku sempat melayangkan permintaan khusus kepada pimpinannya, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, ketika dia diminta masuk dalam tim negosiasi pembangunan smelter.

Di hadapan Menteri Jonan, dia meminta agar diberikan wewenang penuh dalam negosiasi dan meminta agar tidak dilangkahi dalam proses negosiasi.

"Saya lapor ke pimpinan, kalau boleh pimpinan Freeport mau Richard (Presiden dan Chief Executive Officer Freeport McMoran, Richard Adkerson) mau siapapun. Jangan ketemu Menteri, jangan ketemu Presiden, sebelum ketemu kami," kata Bambang di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin (28/1).

Permintaannya tersebut ternyata memang dipenuhi oleh Menteri Ignasius Jonan. "Dan itu dikabulkan. Saya kira kalau kita berdaulat, kami diberikan kewenangan," ujarnya.

"Saya bersyukur punya pimpinan di kami Pak Jonan, di BUMN Bu Rini, dan Bu Sri Mulyani di Keuangan saya kira punya integritas dan strategi yang sangat jitu," ujar Bambang.

Pengalaman lain yang dia alami yakni mendapatkan tugas untuk mencari dokumen persetujuan Mantan Menteri ESDM Ida Sudjana atas 40 persen participating interest Rio Tinto. Dokumen tersebut akan dibawa Menteri BUMN, Rini Soemarno dalam proses negosiasi dengan Rio Tinto London.

"Saya disuruh cari berkas persetujuan dari Menteri Ida Sudjana, persetujuan Rio Tinto, participating interest, untuk dibawa Bu Rini hari Senin ke London. Saya diperintah cari hari Minggu. Ketemu, saya dapat dikasih ke Pak Budi dan Bu Rini di Bandara. Jadi beliau baca mungkin di pesawat."

Meskipun demikian, dia mengaku setelah menyerahkan dokumen tersebut kepada Rini, dia sempat meragukan keaslian dokumen tersebut. "Tapi saya tidak yakin jangan-jangan tidak asli karena kita ini banyak KW," ungkapnya.

Dia kemudian kembali meminta dokumen yang sama dari pihak Freeport, kemudian mencocokkan dengan yang sudah dia peroleh lebih dahulu. "Saya hubungi teman-teman di Freeport bagian legal, saya dapat lagi dan sama. Jadi saya merasa tidak membohongi pimpinan," imbuhnya.

Di balik kisah-kisah tersebut, Bambang mangaku menjalankan tugas sebagai tim negosiator dengan tanpa tekanan. Sebab sepanjang proses negosiasi, tidak ada intervensi pimpinan yang bertujuan menguntungkan pihak Freeport.

"Tidak arahan pimpinan negara kita yang memberikan angin kepada mereka. Karena itu, saya pikir ini (divestasi 51 persen saham PTFI) karena kedaulatan, kekompakan, integritas pimpinan negara melawan korporasi yang selama ini selalu dipenuhi keinginannya," tandasnya.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP