Makin Murah, Pembangkit Listrik Tenaga Matahari Bakal Jadi Primadona di Masa Depan
Merdeka.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bakal menjadi primadona di masa depan. Menurut laporan, penggunaan energi terbarukan ini akan melonjak hingga 80 persen di berbagai negara. Badan Energi Internasional mengatakan PLTS menghasilkan listrik lebih murah dibandingkan dengan batu bara.
Dilansir dari CNN, menurut Badan Energi Internasional (IEA), salah satu sumber listrik termurah dalam sejarah dan telah mengurangi biaya investasi adalah sel surya fotovoltaik. Sistem fotovoltaik dapat dipasang sebagai panel di rumah, bisnis, dan digunakan di taman surya.
Badan Energi Terbarukan Internasional mengatakan bahwa biaya listrik dari instalasi fotovoltaik surya skala besar telah turun dari sekitar 38 sen per kilowatt-jam pada 2010 menjadi rata-rata global 6,8 sen per kilowatt-jam tahun lalu.
"Saya melihat tenaga surya menjadi raja baru pasar listrik dunia," kata direktur eksekutif IEA, Fatih Birol dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, laporan IEA juga menjabarkan tiga skenario untuk pengembangan pasar energi global di masa depan pasca pandemi Covid-19. Pertama permintaan energi global ke tingkat normal pada 2023. Kedua jumlah sistem fotovoltaik tumbuh dengan kuat, dan ketiga meningkatkan kapasitas PLTS rata-rata 12 persen per tahun hingga 2030.
Listrik diharapkan dapat meningkatkan konsumsi energi secara keseluruhan. Mengingat bahwa penyediaan tenaga listrik yang bersih ke sektor-sektor seperti transportasi sangat penting untuk menekan kadar karbon di udara.
Menurut IEA, tenaga surya tetap menjadi pilihan yang hemat biaya bahkan dalam skenario di mana pandemi berlarut-larut. Di mana pandemi menyebabkan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan dan mengantarkan tingkat pertumbuhan permintaan energi terendah sejak tahun 1930-an.
"Jika pemerintah dan investor meningkatkan upaya energi bersih mereka, pertumbuhan tenaga surya dan angin akan menjadi lebih spektakuler - dan sangat mendorong untuk mengatasi tantangan iklim dunia," kata Birol.
Perusahaan minyak seperti BP (BP) dan Royal Dutch Shell (RDSA) telah meluncurkan perubahan strategis utama menuju energi rendah karbon dan menjadi tanda perubahan besar pada pasar energi global.
Ketergantungan Energi Fosil Makin Menurun
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenurut laporan IEA, berkurangnya aktivitas ekonomi dan permintaan listrik akibat pandemi Covid-19 telah menurunkan permintaan batubara global. IEA memperkirakan 275 gigawatt kapasitas berbahan bakar batu bara akan dihentikan pada 2025.
Itu sekitar 13 persen dari total kapasitas batubara pada 2019. Jika ekonomi global pulih tahun depan, pangsa batu bara turun dari 37 persen menjadi 28 persen pada tahun 2030.
"Peningkatan energi terbarukan, dikombinasikan dengan gas alam murah dan kebijakan penghapusan batubara, berarti permintaan batu bara di negara maju turun hampir setengahnya hingga 2030," kata IEA.
IEA juga mengungkap pertumbuhan penggunaan batu bara di negara berkembang di Asia, seperti India, jauh lebih rendah. Penurunan juga terjadi pada prospek minyak, BP memperkirakan permintaan minyak mungkin tidak akan pernah kembali ke level tertinggi 2019 akibat pandemi Covid-19.
Reporter Magang : Brigitta Belia
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya