Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Luhut: Proyek dry port sudah ada sejak dulu tapi diabaikan

Luhut: Proyek dry port sudah ada sejak dulu tapi diabaikan Menko Polhukam kunjungi kantor KLN. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Keberadaan pelabuhan kering atau dry port diharapkan mampu menjadi solusi tepat dalam menyelesaikan permasalahan bongkar muat barang atau dwelling time di Tanah Air. Sebab, selama ini bongkar muat barang di Indonesia menjadi yang terburuk dibanding negara-negara Asia Tenggara.

Tercatat, negara seperti Vietnam mempunyai dwelling time mencapai 3 hari, Thailand 2 hari, Malaysia 1-2 1-2 dan Singapura 1,5 hari. Sementara Indonesia masih membutuhkan waktu 4-5 hari untuk masuk ke pelabuhan Tanjung Priok.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan keberadaan dry port sebenarnya sudah dibicarakan sejak dulu. Hanya saja, keberadaan dry port pada saat itu diabaikan pemerintah sehingga tidak bisa memberikan peran yang optimal dalam dwelling time.

"Dry port menarik, bertahun-tahun kita ngomongin. Padahal masalahnya menurut saya sederhana, kita enggak kerjain aja. Karena semua (sarana) sudah ada. Konektifitasnya juga jalan," ujar Luhut dalam Coffee Morning di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (18/10).

Luhut mencontohkan, salah satu bentuk ketidakoptimalan dalam fungsi dry port adalah dengan menjadikan sebagian lahan dari Tanjung Priok di masa penjajahan Belanda sebagai kawasan perumahan. Hal ini membuat tata ruang pelabuhan Tanjung Priok menjadi sempit dan mempengaruhi ketidakoptimalan dalam dwelling time.

"Saya beri contoh. Sekarang ini Priok itu tata ruangnya berdasarkan sejarah Belanda, Priok buat tata ruangnya Cempaka Putih sama Kelapa Gading itu ada interline. Sekarang dibikin perumahan, jadi kita salah," pungkasnya.

(mdk/sau)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP