Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

LPS: Generasi Muda Cenderung Tergiur Investasi Berisiko Tinggi

LPS: Generasi Muda Cenderung Tergiur Investasi Berisiko Tinggi Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, literasi keuangan anak muda harus terus ditingkatkan untuk menurunkan tingkat ketimpangan ekonomi atau rasio gini masyarakat Indonesia di masa depan.

"Semakin tinggi literasi, semakin rendah rasio gini. Semakin rendah literasi, semakin tinggi rasio gininya," ujar Purbaya dalam seminar Merdeka Finansial di Era Digital dikutip di Jakarta, Jumat (19/8).

Purbaya mengatakan upaya pemberian pengetahuan dan pelatihan keuangan ke anak muda sebagai generasi penerus bangsa perlu terus-menerus dilakukan melalui berbagai sarana dan fasilitas yang tersedia.

"Ini tidak gampang, tapi harus terus menerus dilakukan. Literasi keuangan anak muda perlu ditingkatkan," ujar Purbaya.

Dalam era teknologi digital ini, dia menyarankan kegiatan literasi keuangan dilakukan melalui media digital, sehingga penyampaiannya lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik anak muda.

Dia mengatakan anak muda memiliki kecenderungan mengadopsi media digital, khususnya media sosial dalam mengambil keputusan terkait keuangan dan investasi. Di sisi lain, anak muda juga memiliki kecenderungan ingin mendapatkan keuntungan cepat dalam berinvestasi.

"Generasi muda cenderung tergiur dengan investasi yang berisiko tinggi. Risikonya tidak dipelajari sama sekali, makanya flexing laku," ujar Purbaya.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jika pada 2018 lalu, investor pasar modal tercatat hanya sebanyak 1,6 juta, pada Juli 2022, jumlahnya sudah mencapai 9,3 juta. Pada periode yang sama, investor saham mencapai 4,1 juta, reksadana 8,6 juta dan surat berharga negara (SBN) sebanyak 736,4 ribu.

Secara demografi, investor di Indonesia didominasi oleh generasi muda (di bawah usia 30 tahun) dan latar belakang pendidikan tertinggi SMA/sederajat. Berdasarkan kelompok umur, data KSEI menyebutkan, investor dengan usia di bawah 30 tahun jumlahnya mencapai 59,43 persen dan menguasai Rp54,79 triliun.

Purbaya menyarankan, sebelum benar-benar terjun ke dunia investasi, anak muda seharusnya bisa melakukan profiling pada dirinya sendiri. Mereka bisa memulai berinvestasi setelah memenuhi kebutuhan dasar, dana darurat dan asuransi.

"Kuncinya sabar. Jangan anggap investasi itu bisa bikin langsung kaya. Jangan berutang dalam berinvestasi karena bunga pinjaman itu sudah pasti, sedangkan return investasi belum pasti," tutur Mantan Kepala Ekonom Danareksa Sekuritas tersebut.

Tabungan Rumah Tangga

Selain itu, menurutnya tingkat literasi keuangan juga berpengaruh terhadap tabungan rumah tangga, sehingga, kegiatan literasi keuangan juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa yang akan datang.

"Kalau kita makin pintar (soal keuangan), maka akan sering menabung," ujar Purbaya.

Berdasarkan riset Indef, skor financial knowledge masyarakat Indonesia berada di angka 3,7 atau masih di bawah skor rata-rata negara anggota Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang sebesar 4,6.

Lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan penduduk Indonesia yang diukur menggunakan gini ratio berada di angka 0,384 pada Maret 2022. Angka ini meningkat 0,003 poin dibandingkan dengan gini ratio September 2021 yang sebesar 0,381.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP