Lion Air terancam gagal bayar utang pembelian ratusan pesawat
Merdeka.com - Kejadian keterlambatan penerbangan atau delay maskapai Lion Air sejak Rabu (18/2) lalu disebut menjadi yang terparah sepanjang bisnis penerbangan Indonesia. Angkasa Pura mencatat setidaknya 567 penerbangan Lion Air terganggu akibat kejadian ini.
Pengamat penerbangan Alvin Lie memperkirakan kejadian delay parah ini menjadi pukulan telak pada operasional maskapai berlogo singa merah ini. Betapa tidak, di luar kerugian uang, delay tersebut juga memperburuk imaji Lion Air di mata konsumen.
"Kejadian ini tanda ada masalah parah," ujarnya saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Minggu (22/2).
Imaji maskapai delay yang melekat pada Lion Air, menurutnya, menjadi lampu kuning yang musti disikapi serius oleh manajemen perusahaan. Pasalnya, hal tersebut akan menurunkan minat konsumen berpergian menggunakan Lion Air dan pada akhirnya akan mengganggu kinerja keuangan perusahaan.
Apalagi, lanjutnya, Lion Air tengah melakukan rencana ekspansi besar ditandai dengan jor-joran membeli armada pesawat. "Jelas mengganggu rencana ambisius ini," tuturnya.
Momok bagi ambisi Lion Air tak hanya itu, penurunan nilai tukar Rupiah saat ini juga merongrong maskapai milik anggota watimpres Rusdi Kirana ini. Lion Air diprediksi bakal semakin kesulitan melakukan pembayaran pembelian pesawat.
"Apalagi 90 persen penghasilan Lion Air berbentuk Rupiah. Sementara pembayaran menggunakan Dolar," ucapnya.
Sebelumnya, kasus keterlambatan 'berjamaah' maskapai penerbangan Lion Air membuat pembelian tiketnya menurun. Banyak penumpang takut kasus serupa menimpa dirinya dan memilih beralih menggunakan pesawat lain.
Direktur Operational Chresna Group Tour & Travel Hendri Harjo mengaku sudah tiga hari semenjak kasus delay tersebut banyak pelanggannya membeli tiket penerbangan lain. Namun demikian, pihaknya tetap membuka layanan tiket maskapai milik anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Rusdi Kirana itu.
"Penjualan tiket Lion Air turun. Tapi kita tetap membuka layanan pembelian tiket untuk Lion Air," kata Hendri kepada merdeka.com, Jakarta, Minggu (22/2).
Seperti diketahui, pembelian pesawat Lion Air dari dua pabrikan dunia Airbus dan Boeing disinyalir memakan biaya sekitar Rp 500 triliun. Lion Air, pada 2011, telah memesan 234 pesawat dari Boeing senilai USD 21,7 miliar. Dalam aksi korporasi ini, Lion Air mendapat bantuan pembiayaan dari Exim Bank Amerika Serikat senilai USD 1,1 miliar.
Lion Air juga memesan 201 pesawat A320 dari Airbus senilai USD 20 miliar pada 2013. Pembelian pesawat ini telah ditalangi oleh Export Credit Agency (ECA) dari Prancis, Jerman dan Inggris.
Selain itu, tahun lalu, Lion Air kembali memesan 100 pesawat ATR dari Italia senilai USD 1 miliar. Angka yang cukup besar ini tentu membuat Lion Air harus bekerja keras dalam menjaga pemasukannya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya