Laba 2013 tembus Rp 98 miliar, Perum Damri cetak sejarah
Merdeka.com - Perum Damri mencetak sejarah baru setelah berhasil melampaui target laba tahun lalu. Hingga tutup buku tahun 2013, perusahaan angkutan ini mencatat laba Rp 98 miliar dari target yang hanya Rp 69,4 miliar.
"Pertama kita menerima laporan dari direksi Damri luar biasa perkembangannya, yang tutup buku sudah melampaui target Rp 98 miliar," ujar Menteri BUMN Dahlan Iskan usai Rapim di kantor Damri, Jakarta, Kamis (23/1).
Dirut Perum Damri Agus Subrata menuturkan, RKAP tahun 2013 menargetkan laba Rp 69,4 miliar dengan pendapatan Rp 1,01 triliun.
"Sampai semester II ini laba mencapai Rp 98 miliar, itu lebih besar 40 persen. Tapi itu belum tahu kan belum dikurangi pajak. Saya kira bisa lebih itu," katanya.
Dia mengklaim, Damri mengalami lonjakan laba yang cukup signifikan dalam kurun waktu sewindu. Pada 2004, Damri hanya mencatat pendapatan Rp 260 miliar sedangkan tahun 2012 sebesar Rp 900 miliar.
Berangkat dari kinerja yang terus meningkat, pihaknya menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini sebesar 18 persen. "Laba kita lompatnya jauh,"ucapnya.
Selama tiga tahun ini, kata dia, Damri melakukan investasi besar-besaran. Pada 2012, Damri membeli armada baru sebanyak 500 unit dan memperbaiki armada sebanyak 500 unit.
"Dua tahun kemarin kita baru sampai memperbaiki armada dan meningkatkan pelayanan. Kalau armada bagus, tertarik orang," jelasnya.
Hingga saat ini Perum Damri memiliki 394 trayek dan 2600 armada yang beroperasi di seluruh Indonesia. Namun, untuk dapat bersaing dengan perusahaan swasta maka akan meningkatkan pelayanan dan diferensiasi dengan melakukan survei pada tiap 1 trayek.
"Dari semua segmen itu kita ada 7 segmen. Selama ini yang rugi bus kota. Baru 2013 ini segmen bus kota minta untung, karena kita menang di busway yang bayar Pemda yang masih masuk kategori bus kota," jelasnya.
Terkait belanja modal, tahun ini nilainya lebih rendah dibanding tahun lalu. Dia menyebutkan, untuk pengadaan armada dan tanah untuk pool tahun lalu dianggarkan Rp 424 miliar, namun tahun ini hanya Rp 242 miliar.
"Sekarang aturan BI untuk membeli bus harus DP 20-30 persen dari harga pembelian, nah itu memberatkan. Makanya kita mau cari terobosan untuk mengakali agar tidak membayar DP," katanya.
Terkait strategi ekspansi, Damri berencana melebarkan sayap bisnis dengan membuka kantor cabang di Sorong Selatan dan membangun pabrik di sana. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya