Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp14.515 per USD
Merdeka.com - Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp14.515 per USD
Nilai tukar Rupiah ditutup menguat 10 poin walaupun sempat stagnan di level Rp14.515 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.525 per USD. Sedangkan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup melemah di rentang Rp14.500 hingga Rp14.550 per USD.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, Dollar sebagian besar stabil pada hari ini karena investor menyerap laporan ketenagakerjaan AS yang kuat minggu lalu dan melihat ke depan ke data di sektor jasa AS untuk penegasan rebound ekonomi yang kuat dari guncangan Virus Corona.
"Ekonomi AS menciptakan lebih banyak pekerjaan dari yang diharapkan pada bulan Maret, data menunjukkan pada hari Jumat. Namun, ada sedikit reaksi dalam mata uang karena sebagian besar pasar saham dan obligasi ditutup untuk liburan Paskah," ujarnya, Senin (5/4).
Secara keseluruhan, prospek Dollar tetap solid karena denyut nadi ekonomi yang mendasarinya menunjukkan pemulihan yang menguat. Sebuah survei dari Institute for Supply Management yang akan dirilis pada hari Senin diharapkan menunjukkan aktivitas non-manufaktur AS meningkat pada tingkat yang lebih cepat pada bulan Maret.
Faktor Internal
Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia 2021 akan tumbuh membaik hingga kisaran 5,6 persen pada akhir 2021 seiring dengan melandainya penambahan kasus baru serta penurunan kasus aktif Covid-19, walaupun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama masih terjadi kontraksi.
"Membaiknya perekonomian, didukung oleh perbaikan kondisi pandemi di Indonesia terus menurun dan juga didorong oleh percepatan vaksinasi nasional. Hal tersebut juga dibarengi oleh akselerasi kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang terus dijalankan oleh Pemerintah," kata Ibrahim.
Sementara itu, berdasarkan data Satgas Covid-19 hingga kemarin, jumlah kasus aktif Covid-19 di indonesia tercatat sebanyak 116.000 atau sekitar 7,61 persen. Kondisi ini telah menurun lebih dari 33,9 persen dari puncak kasus aktif yang terjadi pada 5 Februari 2021, yakni sebanyak 176.672 kasus aktif.
Di samping itu, pelaksanaan pemulihan ekonomi nasional dan implementasi dari berbagai regulasi terkait dengan pelaksanaan undang-undang cipta kerja dan dalam beberapa minggu terakhir pelaksanaan PPKM- Mikro telah membuahkan hasil.
"Hal ini akan turut menjaga momentum pemulihan ekonomi dan kepercayaan masyarakat akan kembali meningkat," jelas Ibrahim.
Seperti informasi saja,lembaga-lembaga internasional, seperti Bank Dunia, OECD, ADB dan IMF memproyeksikan pertumbuhan Indonesia berada pada kisaran 4,4 persen hingga 4,9 persen di 2021 dan 4,8 persen hingga 6,0 persen pada 2022.
Di samping itu bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas, obligasi dan SUN diperdagangkan DNDF terhadap mata uang garuda agar terus terjaga dan stabil dan cenderung menguat didukung kebijakan stabilisasi Bank Indonesia.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya