Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kunjungi China, Jonan minta jaminan pada teknologi kereta cepat

Kunjungi China, Jonan minta jaminan pada teknologi kereta cepat Jokowi resmikan kereta cepat Bandung-Jakarta. ©Reuters/Garry Lotulung

Merdeka.com - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meminta Tiongkok menjamin standar teknologi kereta api cepat Jakarta-Bandung. Sehingga, kenyamanan dan keselamatan penumpang benar-benar terjamin.

"Mereka harus benar-benar menerapkan standar teknis, termasuk teknologi yang digunakan di sini (China) pada kereta api cepat Jakarta-Bandung. Jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi mereka, saya tidak akan keluarkan izin bagi operasional kereta cepat ini," ujar Jonan di Beijing, China seperti dilansir Antara, Sabtu (23/4).

Selama kunjungan ke Beijing, China, Jonan mengadakan pertemuan dengan Menteri Pembangunan dan Reformasi China Xu Shaoshi dan Menteri Transportasi China Yang Chuantang, serta Presiden China Railway Sheng Guangzu.

Dalam pertemuan dengan Menteri Xu Shaoshi, Jonan menegaskan, Kementerian Perhubungan mendukung proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, namun standar teknis dan teknologi yang digunakan, harus jelas.

"Standar teknis dan teknologi yang digunakan sangat berkaitan dengan kenyamanan dan keselamatan penumpang. Karenanya pihak NDRC dan konsorsium harus dapat memastikan standar teknis dan teknologi yang digunakan," kata Jonan.

"Jika, di China menggunakan lebar (antara dua titik tengah rel ganda) lima meter, untuk kecepatan 350 kilometer per jam, ya itu pula yang digunakan untuk kereta api cepat Jakarta-Bandung. Jangan diubah standarnya, lebar rel 4,6 meter, untuk kecepatan 350 km/jam. Selisih 0,4 meter itu sangat berpengaruh," tambah dia.

Dalam proyek senilai Rp 78 triliun tersebut, China semula mencantumkan standar kecepatan 250 km per jam, dengan lebar antara dua titik tengah rel ganda kereta api 4,6 meter. Namun, belakangan tingkat kecepatan ditingkatkan menjadi 350 km per jam, tanpa merubah lebar rel kereta menjadi lima meter, seperti standar teknis yang digunakan di China.

"Proyek ini dibangun oleh China, menggunakan standar teknis dan teknologi Tiongkok. Ya itu yang dipakai, jangan menggunakan standar berbeda. Jika, ini dilakukan maka kami akan menggunakan konsultan independen negara lain untuk proyek ini. Tentu pihak China tidak mau kan," tegas dia.

Menanggapi itu, Menteri Xu Saoshi mengatakan, kereta api cepat yang dibangun untuk rute Jakarta-Bandung, akan menggunakan standar dan teknologi China. Dia pun sangat berterima kasih atas dukungan Kementerian Perhubungan atas kepeduliannya terhadap standar serta teknologi yang digunakan.

"Ini akan menjadi fokus kami untuk ditindaklanjuti, karena bagaimana pun proyek ini yang pertama bagi Indonesia sehingga harus benar-benar memberikan manfaat. Kami memahami, dan kami akan bicarakan dengan pihak terkait," kata Xu.

Selain masalah standar teknis dan teknologi yang tidak sesuai, Jonan juga meminta agar permasalahan pembebasan lahan segera dilakukan dengan berkoordinasi dengan pemda yang wilayahnya akan digunakan sebagai jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung sepanjang 150 kilometer.

"Jika persoalan lahan ini tidak dapat diselesaikan, maka pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung, sudah dipastikan tidak akan tepat waktu," jelas dia.

Perihal standar teknis serta teknologi kereta api cepat Jakarta-Bandung, dan pembebasan lahan juga disampaikan Jonan kepada Presiden China Railway selaku operator kereta nasional China, dan kepala konsorsium China untuk pembangunan proyek kereta api cepat, yang ditargetkan operasional pada 2018. (mdk/sau)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP