Krisis mengerikan landa Mongolia, pemerintah tak mampu gaji PNS
Merdeka.com - Pada 2011 silam, perekonomian Mongolia tumbuh sebesar 17 persen. Tak hanya itu, investasi asing juga mengucur masuk ke negara tersebut. Kini berbeda, Mongolia menghadapi krisis ekonomi parah.
Nilai tukar mata uang Mongolia telah anjlok 10 persen sepanjang bulan lalu. Bank sentral setempat mencoba menghentikan pelemahan nilai tukar dengan menaikkan suku bunga acuan dari sebelumnya 4,5 persen menjadi 15 persen. Namun, itu hanya solusi jangka pendek.
Mongolia saat ini sedang mempertimbangkan bantuan dana atau bailout dari IMF.
"Kami berada dalam krisis ekonomi mendalam. Kami mungkin tidak mampu membayar gaji dan biaya operasional pemerintahan," ucap Menteri Keuangan Mongolia, Choijilsuren Battogtokh seperti dilansir dari CNN, Rabu (24/8).
Situasi yang paling mengerikan di Mongolia saat ini adalah investasi asing di sektor pertambangan mulai kabur, dan jumlahnya mencapai miliaran dolar AS. Padahal, sebanyak 3 juta rakyat Mongolia menggantungkan hidup pada sektor ini.
Sebelum terjadinya krisis ini, Bank Dunia sudah mengingatkan Mongolia yang sedang diambang kehancuran karena transformasi besar-besaran di sumber daya alam.
Merosotnya harga tambang dan melemahnya permintaan China menghantam perekonomian Mongolia yang bergantung pada sektor sumber daya alam.
Para ahli memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Mongolia tahun ini akan sangat rendah sekali. Kondisi akan semakin sulit jika krisis tidak segera diatasi.
Pekan lalu, Standard & Poor memangkas peringkat kredit utang Mongolia jadi B- dari sebelumnya B. Bank Dunia juga memperingatkan Mongolia soal defisit anggaran yang akan jauh lebih buruk di 2016 yaitu mencapai minus 21 persen dari PDB.
Lembaga pemeringkat ini juga menyebut bahwa utang pemerintah Mongolia secara keseluruhan telah naik dari 26 persen dari PDB di 2010 menjadi 70 persen di tahun ini.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya