Konektivitas dan Harga Jadi Daya Tarik Utama Pasar Properti di 2021
Merdeka.com - Sektor properti menjadi salah satu industri yang tak bisa luput dari dampak pandemi Covid-19. Industri ini mengalami fluktuasi yang cukup besar, di mana sempat mengalami tekanan yang dalam di kuartal I hingga III karena pandemi Covid-19. Namun industri properti mulai terlihat ada tanda-tanda kebangkitan mendekati akhir tahun ini. Geliat pertumbuhan ini diprediksi akan berlanjut hingga tahun depan.
Situs jual beli properti Rumah.com menyatakan, kondisi buyer’s market kemungkinan masih berlanjut di tahun 2021, yaitu ketika ada begitu banyak pilihan properti yang berusaha untuk terjual, sehingga pembeli ada di posisi yang diuntungkan.
Namun, kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Optimisme penyedia suplai mulai pulih sehingga harga properti diperkirakan akan kembali mengalami kenaikan secara bertahap.
Country Manager Rumah.com, Marine Novita mengatakan, konektivitas dan harga masih menjadi daya tarik utama pasar properti di tahun 2021. Jarak dengan pusat kota tidak lagi menjadi pertimbangan utama selama perjalanannya mudah ditempuh dan bebas macet.
"Kombinasi antara harga yang terjangkau dan kemudahan mobilisasi akan menjadi daya tarik utama bagi konsumen," kata Marine Novita dalam paparan Rumah.com Property Market Outlook 2021 (RPMO 2021).
Marine mengatakan, pemerintah kembali menjadikan infrastruktur sebagai ujung tombak perekonomian nasional di tahun 2021 dengan mengalokasikan anggaran Rp413,8 triliun untuk pemulihan ekonomi, penyediaan layanan dasar, serta peningkatan konektivitas. "Konektivitas ini berdampak langsung pada perkembangan properti pada daerah-daerah satelit," kata dia.
Rumah.com Indonesia Property Market Index untuk indeks harga (RIPMI-H) mencatat, kenaikan pada area-area yang dilintasi jalur tol. Di Depok, misalnya. Saat indeks harga Depok kuartal ketiga 2020 secara keseluruhan mengalami penurunan sebesar 2,61 persen secara tahunan, kecamatan-kecamatan yang dilewati dekat dengan jalur tol baru justru mengalami kenaikan seperti Cimanggis (9 persen), Limo (4 persen) dan Cinere (3 persen).
Sementara itu, kelurahan Cinangka di Kecamatan Sawangan, Depok, mengalami peningkatan hingga 35 persen. Sejumlah kecamatan di Tangerang Selatan yang berada di sekitar tol Cinere-Serpong juga mengalami kenaikan seperti Pondok Cabe (6 persen), Serpong (12 persen), dan Pamulang (19 persen).
Wilayah Paling Prospektif di DKI Jakarta
Wilayah yang paling prospektif di DKI Jakarta adalah Jakarta Timur karena harganya yang paling terjangkau jika dibandingkan dengan wilayah lain di DKI Jakarta. Saat ini, median harga di kawasan DKI Jakarta berada di kisaran Rp27 juta per meter persegi. Sementara itu, median harga di Jakarta Timur masih berada pada angka Rp16 juta per meter persegi atau sekitar 45 persen lebih rendah daripada wilayah Jakarta lainnya.
"Membeli rumah bisa menjadi keputusan paling sulit, dan mungkin juga paling mahal, dalam hidup. Saat memutuskan untuk membeli rumah, hal yang terpenting adalah mendapatkan informasi lengkap, agar bisa mengambil keputusan dengan penuh percaya diri," tutup Marine.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya