Kisah pilu pekerja minyak, dulu tajir kini jual seragam buat makan
Merdeka.com - Beberapa dekade terakhir, bekerja di perusahaan minyak milik pemerintah Venezuela yaitu Petroleos de Venezuela (PDVSA) sangat didambakan masyarakat setempat. Bagaimana tidak, perusahaan menawarkan gaji di atas rata-rata, bonus berlimpah serta diberi fasilitas kredit murah untuk kepemilikan rumah. Bagi pekerja di PDVSA, melancong atau berlibur keluar negeri sudah menjadi hal yang biasa.
Keadaan kini terbalik. Perekonomian Venezuela dihantam krisis, dan angka inflasi tembus tiga digit. Karyawan PDVSA harus berjuang ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan, ongkos hingga biaya sekolah anak.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, banyak karyawan PDVSA menggadaikan barang, kerja sampingan, dan bahkan sampai menjual baju seragam PDVSA hanya untuk membeli makanan. Demikian hasil wawancara reuters dengan dua lusin pekerja PDVSA termasuk keluarga dan pimpinan serikat pekerja seperti ditulis CNBC, Kamis (6/10).
"Setiap hari, ada saja seorang pekerja PDVSA datang untuk menjual seragamnya," kata seorang pedagang di kota minyak Maracaibo, Elmer. Sebagai pembeli, Elmer mengakui harga beras dan tepung sangat mahal karena diimpor dari Kolombia.
"Mereka menjual sepatu, celana, sarung tangan dan masker."
Sekitar 150.000 pekerja PDVSA kini hanya bisa mengantongi USD 35 sampai USD 150 per bulan yang kemudian ditambah kupon makan senilai USD 90. Namun, uang yang didapat ini masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena harga serba mahal. Demikian penuturan karyawan yang diwawancara.
"Terkadang, kita biarkan anak-anak tidur sampai siang untuk menghemat sarapan," kata seorang pekerja di tepi Danau Maracaibo. Daerah ini adalah penghasil minyak yang berbatasan dengan Kolombia. Pekerja ini juga mengaku semakin kurus dan kehilangan berat badan 5 Kg karena berhemat makanan.
Krisis yang melanda Venezuela cukup menyedihkan. Pekerja PDVSA semakin kecewa karena perusahaan juga melakukan efisiensi dan sistem absen baru. "Sebagian besar dari kita tidak seproduktif dulu karena kita lebih fokus bagaimana untuk bertahan secara ekonomi."
Masalah di Venezuela tidak berakhir di situ. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya