Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ketegangan Rusia dan Ukraina Ancam Naikkan Harga BBM Indonesia, Kenapa?

Ketegangan Rusia dan Ukraina Ancam Naikkan Harga BBM Indonesia, Kenapa? Rusia kerahkan batalion sistem rudal S-400 di Belarusia. ©Handout/Russian Defence Ministry/AFP

Merdeka.com - Eskalasi hubungan Rusia dan Ukraina mendatangkan untung rugi untuk Indonesia. Ketegangan dua negara ini akan mempengaruhi harga minyak dunia.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai, keuntungan yang didapat Indonesia terutama dalam hal penerimaan negara.

"Jika tren harga minyak yang saat ini berada pada kisaran 90 USD/barel untuk WTI (West Texas Intermediate) berlanjut, tentu ini akan semacam menjadi faktor windfall (keuntungan tak terduga) bagi penerimaan negara karena asumsi makro harga minyak yang disepakati sebelumnya (dalam APBN 2022) ada pada harga 63 USD/barel," kata dia seperti dikutip dari Antara, Jakarta, Rabu (16/2).

Namun, di balik faktor blessing in disguisse (berkah terselubung), kenaikan harga komoditas tersebut berpeluang mendorong kenaikan inflasi domestik. Hal ini dapat terjadi apabila kenaikan harga minyak global direspon oleh otoritas terkait dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Di sisi lain, sebagai negara net importir, Indonesia berpotensi mendorong naiknya nilai impor minyak. "Sentimen juga bisa berdampak jika serangan betul-betul terjadi. Artinya, dengan terlibatnya Rusia dalam perang dengan Ukraina, berpotensi besar dalam menggerek harga komoditas global," ungkapnya.

Dorong Ekspor Batubara Indonesia

batubara indonesiaRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Yusuf berpendapat bahwa sensitivitas eskalasi memiliki korelasi erat dengan naik-turunnya harga minyak dunia. Misalnya, harga minyak sempat turun di level sangat terbatas disebabkan adanya sentimen dari Rusia yang menyatakan tidak akan menyerang Ukraina dan hanya menginginkan negosiasi.

Bahkan, ucapnya, negara yang dijuluki Beruang Putih itu mengklaim telah menarik pasukan dari perbatasan Rusia dan Ukraina. "Namun setelah klaim ini diragukan oleh Amerika Serikat, kenaikan harga minyak kembali terjadi," ujar dia.

Sebagai salah satu eksportir produk komoditas utama seperti minyak dan gas, dinamika yang dialami Rusia juga akan mempengaruhi beberapa harga komoditas tersebut. Seperti kejadian beberapa bulan lalu, dikatakan ekspor gas dari Rusia yang mengalami hambatan pada akhirnya mendorong permintaan batubara oleh sejumlah negara, termasuk China, untuk mengisi sumber daya energi.

Pada saat itu, harga batubara bahkan sempat menyentuh harga tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Kondisi ini akhirnya menguntungkan ekspor Indonesia karena batubara merupakan salah satu komoditas utama Tanah Air.

"Pertumbuhan ekspor hasil pertambangan yang mencatatkan pertumbuhan 74 persen sepanjang tahun 2021 tidak terlepas dari kinerja ekspor dari komoditas batubara," ucapnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP