Kereta cepat ditolak, Jepang tak pasti ikut proyek kereta menengah
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo memutuskan tidak melanjutkan proyek High Speed Train (HST) Jakarta-Bandung. Kereta cepat dianggap tidak cocok dan sulit dalam pengoperasiannya. Pemerintah memilih merancang kerangka acuan untuk memastikan pembangunan moda transportasi berbasis rel sesuai kebutuhan Indonesia.
Secara tegas Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, untuk Jakarta-Bandung dengan jarak tempuh 150 Kilometer, belum membutuhkan kereta berkecepatan 300 km per jam. Menurut pemerintah, kereta yang dibutuhkan dengan kecepatan menengah atau sekitar 200-250 Km per-jam.
Pemerintah mempersilakan pihak Jepang maupun China mengajukan proposal baru jika tertarik menggarap proyek kereta kecepatan menengah. Namun Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki belum bisa memastikan keikutsertaannya.
"Kami belum mendapat informasi lebih rinci mengenai ide tersebut. Jadi kami masih menunggu untuk diuraikan secara detail mengenai proyek kereta (kecepatan) sedang," tuturnya di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (4/9).
Dia mengaku telah mendapat penjelasan Menko Darmin mengenai proyek ini. Rencananya pemerintah Indonesia tidak akan ikut ambil bagian dalam pembangunannya. Karena sepenuhnya diserahkan kepada swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara business to business (B to B).
"Tapi saya tidak tahu apakah perusahaan-perusahaan Jepang akan menunjukkan minat bergabung membangun kereta cepat sedang atau tidak," tutup Tanizaki.
Sebelumnya, Tanizaki mengungkapkan kekecewaannya kepada pemerintah Indonesia. Sebab Presiden Joko Widodo menolak proposal High Speed Train (HST) Jakarta-Bandung yang diajukan China dan Jepang.
"Saya telah menyatakan penyesalan saya karena dua alasan. Tapi keputusan ini sudah dibuat pemerintah Indonesia dan kami menghormatinya karena ini bukan keputusan yang mudah. Saya akan langsung menyampaikan ke Tokyo," katanya.
Dia menjelaskan, kekecewaan Jepang dikarenakan dua hal. Pertama, Jepang telah menggelontorkan dana besar untuk menggarap studi kelayakan (feasibility study/FS) kereta berkecepatan hingga 300 Km per-jam ini. Bahkan mereka sudah menggarapnya selama tiga tahun bersama dengan pakar teknologi kereta cepat. Kedua, Jepang menawarkan teknologi terbaik, termasuk keamanan untuk proyek ini. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya