Kemenko Kemaritiman Cari Solusi Pemasaran Garam Tradisional
Merdeka.com - Garam rakyat identik dengan garam kualitas rendah hingga dihargai murah. Padahal, Indonesia memiliki tradisi pengolahan garam rakyat yang sangat istimewa dengan tradisi pengolahan garam dari laut hingga gunung.
Beberapa di antaranya diketahui garam laut bali-Amed, Kusamba, Tejakula, Pemuteran yang juga dikenal dengan istilah garam artisan, garam gunung (mata air asin) yang diproduksi di Gunung Krayan, Kalimantan Utara.
Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki garam tradisional jenis garam bledug kuwu sering disebut garam bleng yang berasal dari lumpur vulkanik di Grobogan, Jawa Tengah, hingga garam dari tanaman di Papua.
"Semua diolah secara tradisional, dengan kearifan lokal. Bisa dikatakan ini adalah bagian dari budaya kita. Tradisi yang berlangsung turun-temurun," kata Asisten Deputi Bidang Sumberdaya Mineral dan Energi Non Konvensional Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Amalyos Chan, melalui siaran pers, Jakarta, Sabtu (8/12).
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menggandeng beberapa Kementerian/Lembaga untuk meningkatkan nilai jual garam olahan tradisional tersebut melalui rapat koordinasi. Dengan harapan, garam tersebut bisa bersaing dengan garam yang dihasilkan oleh pabrik.
Adapun Kementerian/Lembaga yang digandeng adalah Sekretariat Kabinet, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Koperasi dan UKM.
Selain itu juga digandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi, Pemerintah Daerah, serta pengusaha, investor dan asosiasi garam. Rapat Koordinasi Fasilitasi Perizinan Ekspor Produk Garam Artisan akan dilakukan di Kuta, Bali 6-7 Desember 2018.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya