Kelola air limbah jadi bersih, industri disarankan gandeng BUMN
Merdeka.com - Air limbah dari kawasan industri merupakan salah satu sumber pencemaran air di Indonesia. Namun, sebenarnya ini bisa menjadi salah satu solusi dari krisis air bersih di sejumlah kawasan di Indonesia.
Sejumlah kalangan menilai perlu kehadiran negara untuk mengelola limbah cair industri menjadi air bersih untuk masyarakat. Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Edo Rakhman mengatakan, pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan hak penguasaan pengelolaan air bersih oleh perusahan (swasta), menjadikan Negara bertanggungjawab penuh atas usaha penyediaan air bersih untuk masyarakat.
Dalam kaitannya dengan air limbah industri sebagai sumber air bersih, Edo menyatakan, jika hal itu lebih baik diserahkan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tentu pemerintah tidak dapat membebankan seluruh tanggung jawab semata kepada BUMN.
"Akan baik jika BUMN mau menjadi pelopor, memberikan contoh yang baik kepada perusahaan mengenai bagaimana mengelola air limbah secara baik, meskipun kemudian skema kerja sama dilakukan, namun itu tidak berarti BUMN bertanggung jawab atas limbah perusahaan. Tanggung jawab pengelolaan limbah harus tetap berada di perusahaan (industri)," ucap Edo di Jakarta, Jumat (22/1).
WALHI tidak mempermasalahkan jika ada perusahaan BUMN yang bersedia fokus pada kelestarian lingkungan (khususnya Sumber Daya Air). "Meski begitu pengawasan tetap harus dilakukan, agar dalam persoalan kelestarian air tetap kepentingan publik yang utama, bukan persoalan mencari keuntungan semata," tegasnya.
Sebelumnya, Direktur PT Energy Management Indonesia (EMI) Aris Yunanto menawarkan langkah untuk mengatasi krisis air bersih dengan memanfaatkan air limbah sebagai sumber air bersih. Perusahaan BUMN ini mampu menyulap air limbah menjadi air bersih.
Menurut Aris, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan sejumlah pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta. Di mana pusat perbelanjaan dimaksud menggunakan teknologi dari EMI untuk mengolah air limbah dari tenant dan pengunjung. Perusahaan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan internal akan air bersih, namun juga mendapatkan efisiensi cost sebesar 70 persen dibandingkan jika mereka harus membeli air bersih dari luar secara terus menerus.
"EMI sudah memiliki mini reactor yang bisa dicoba, bahkan sampai kondensat sekalipun. Jadi air yang berasal dari pengolahan minyak, yang jelas-jelas memiliki kandungan B3, dapat kami netralkan hingga memenuhi kriteria air bersih sebelum digunakan lagi atau dibuang ke alam," ucap Aris di Jakarta, Selasa (19/1).
Efisiensi cost dalam teknologi yang menerapkan teknologi ini memungkinkan nilai investasi, yang berada pada kisaran Rp 2 miliar kembali dalam waktu satu atau satu setengah tahun. Saat ini, makin banyak pula perusahaan yang berminat menerapkan teknologi serupa.
"Rencananya, tahun ini ada tujuh pusat perbelanjaan lagi yang membuka peluang bekerja sama dengan EMI untuk pengelolaan air limbah," terang Aris.
Aris menyebut, teknologi pengolahan air limbah menjadi air bersih bisa diterapkan bersesuaian dengan karakteristik limbah masing-masing industri yang bisa jadi berbeda-beda. Sebagai perusahaan pelat merah yang bergerak dalam bidang konservasi dan konversi energi dan air, EMI berupaya menghindari penggunaan air tanah. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya