Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kelas Menengah Ogah Belanja, Khawatir Terpapar Covid-19 Saat Bepergian

Kelas Menengah Ogah Belanja, Khawatir Terpapar Covid-19 Saat Bepergian Ilustrasi liburan. ©2012 Shutterstock/haveseen

Merdeka.com - Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sutrisno Iwantono mengatakan, proses pemulihan ekonomi di sektor pariwisata mandek akibat masyarakat kelas menengah memilih menabung dibanding berbelanja. Tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang tembus Rp 1.000 triliun.

"Masalah sekarang ini tingkat permintaan yang rendah. Masyarakat menengah atas ini masih menahan spending. DPK di bank berdasarkan data Bank Indonesia ini lebih sampai seribu triliun," ungkap Sutrisno dalam talk show virtual BNPB Indonesia bertajuk: Strategi Kebangkitan Pariwisata di Tengah Pandemi, Jakarta, Jumat (29/1).

Artinya, lanjut Sutrisno, masyarakat kelas menengah sampai saat ini belum merasa aman untuk membelanjakan uangnya. Kekhawatiran terpapar saat melakukan aktivitas konsumsi seperti berwisata menjadi faktor utamanya.

"Mereka punya uang tapi tidak mau spending karena belum ada kepercayaan, kalau saya keluar ini saya aman tidak yah," tutur Sutrisno.

Upaya Pengusaha Tarik Minat Konsumsi Warga

tarik minat konsumsi wargaRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Maka, menciptakan keyakinan kepada masyarakat oleh pelaku usaha menjadi hal yang paling penting. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan untuk sertifikasi CHSE (Clean, Health, Safety, dan Environment) atau Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan.

"CHSE ini salah satu cara yang dilakukan pemerintah,tetapi bukan hanya itu, pelaku usaha juga harus yakinkan tempatnya itu memang aman sehingga orang berani datang ke sana," kata dia.

Selain itu, para pelaku usaha juga harus mengeluarkan ide kreatif dalam membuat program atau memasarkan tempat usahanya. Tak kalah penting, pengusaha juga harus optimis bisa melalui masa terberat saat ini.

Kolaborasi juga menjadi salah satu kunci. Sektor pariwisata ini tidak berdiri sendiri. Ada sektor lain seperti transportasi dan penerbangan yang bisa diajak kolabirasi untuk bangkit bersama.

"Kita harus berjuang dan pemerintah berkolaborasi dengan semua pihak. Apalagi, pariwisata ini bukan hotel dan restoran saja. Ada peenrbangam tarnportas dan lain-lain yang harusnya bisa kolaborasi," kata dia mengakhiri.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP