Kelangkaan garam jadi ujian kinerja Menteri Susi
Merdeka.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti mendapat pujian dari berbagai pihak karena berani menenggelamkan kapal asing yang nekat mencuri ikan Indonesia. Namun demikian, kinerja Menteri Susi saat ini tengah diuji dengan kisruh kelangkaan garam yang sempat membuat harga melonjak tinggi.
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim, Abdul Halim mengatakan, buruknya kinerja di instansi terkait dalam pengadaan garam merupakan penyebab kelangkaan garam yang terjadi belakangan ini. Program produksi garam yang dicanangkan tidak mampu mendorong produksi garam serta meningkatkan kesejahteraan petambak garam.
Abdul mengingatkan, produksi garam pada 2016 hanya sebesar 118.056 ton atau setara 3,7 persen dari 3,2 juta ton yang menjadi target pemerintah pada 2016.
"Agar hal serupa tidak terulang kembali, pemerintah mesti memperbaiki kinerjanya di bidang pergaraman dan lebih mengedepankan semangat gotong-royong demi tercapainya target swasembada dan meningkatnya kesejahteraan 3 juta petambak garam di Indonesia," ujar Abdul Halim di Jakarta, Selasa (8/8).
Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB), Hermanto Siregar mengatakan, selama beberapa tahun ini kapasitas produksi garam nasional tidak menunjukkan performa yang baik. Menurutnya, hal itu merupakan suatu indikasi bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus mampu melakukan pembinaan terhadap petani garam untuk mengangkat hasil produksi garam lokal.
"Dari situ aja sebetulnya sudah merupakan indikasi, mestinya dilakukan pembinaan petani garam ya oleh kementerian yang langsung terkait ya kementeriannya Bu Susi, karena turunannya ada di situ," jelas Hermanto.
Seperti diberitakan, pemerintah sebenarnya memiliki program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR), untuk mendongkrak produktivitas petani untuk menghasilkan garam, namun sayangnya program tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan.
Peristiwa langkanya garam ini menjadi bahan evaluasi untuk pemerintah agar ke depannya dapat mendorong petani garam, untuk memproduksi garam sesuai target. Persoalan yang simpel namun cukup membuat kalang kabut ini diharapkan tidak terjadi lagi ditahun-tahun berikutnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya