Kartu kredit harus dibatasi agar orang Indonesia tidak boros
Merdeka.com - Banyak pihak menilai, pertumbuhan ekonomi saat ini sangat rentan terkoreksi. Sebab, konsumsi dalam negeri yang selama ini jadi pendorong pertumbuhan ekonomi, strukturnya tak sehat.
Dari survei Lembaga Kadence Indonesia, 28 persen warga di 12 wilayah Tanah Air masuk kategori bangkrut (broke) lantaran tak mampu menabung. Meski gajinya besar, mereka mencukupi kebutuhan dan belanja lewat utang, salah satunya dengan menggunakan kartu kredit. Tak sedikit yang malah meminjam ke teman dan rentenir.
"Orang-orang bangkrut ini justru banyak yang tidak memiliki akses kredit perbankan, mereka kadang meminjam uang ke lembaga yang tidak jelas, sehingga mereka terjebak utang yang makin besar," kata Managing Director Kadence Indonesia Viviek Thomas di Jakarta, Rabu (20/11).
Jumlah responden yang mampu menabung separuh penghasilannya (deep pocket) sebanyak 22 persen, sementara yang pengeluarannya moderat 17 persen.
Viviek menyatakan, responden yang masuk kategori bangkrut sebetulnya harus dijaga agar tidak semakin terlilit utang. Ke depan, pemerintah dan lembaga perbankan harus mengerem konsumsi kelompok masyarakat boros ini.
Sebab, pertumbuhan ekonomi akan tergerus di masa mendatang. Apalagi, tren konsumsi bertumpu pada utang akan lebih meningkat beberapa waktu ke depan. Jumlah responden hampir bangkrut (on edge) yang tak bisa banyak menabung mencapai 33 persen. Jika dibiarkan, daya beli mereka akan terus melemah.
"Jika pemerintah ingin ada balance, kelompok deep pocket harus belanja lebih banyak, sedangkan yang berutang jangan didukung lagi, itu yang harus dipikirkan para pengambil kebijakan. Maka ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik," kata Viviek.
Dari pengamatan Kadence, salah satu skema yang efektif menekan pertumbuhan orang terlilit utang adalah pembatasan limit maupun kepemilikan kartu kredit.
Rata-rata pengeluaran bulanan responden kategori bangkrut untuk membayar cicilan sebesar Rp 400.000. Viviek memaparkan, itupun masih besar pasak daripada tiang, sebab pola konsumsi mereka jauh lebih tinggi.
"Golongan ini pendapatan rata-ratanya Rp 4,3 juta per bulan, tapi bisa menghabiskan Rp 5,8 juta, sehingga rata-rata berutang Rp 1,5 juta setiap bulan," ungkapnya.
Survei Kadence digelar selama Juli-Oktober 2013, melalui sistem wawancara tatap muka dan telepon. Ada 3.000 responden, dari kelas ekonomi atas, menengah, dan bawah yang terlibat. Daerah penelitian di antaranya, Medan, Jabodetabek, Kalimantan Tengah, dan Makassar. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya