Jutaan Masyarakat Kelas Menengah Asia Tenggara Masuk Jurang Kemiskinan
Merdeka.com - Pandemi virus corona melumpuhkan ekonomi dunia dan menyebabkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sementara itu, banyak juga yang bertahan di pekerjaan, namun mengalami penurunan penghasilan. Salah satunya negara-negara di Asia Tenggara yang harus menghadapi kemunduran besar dalam perekonomian masyarakatnya.
Dilansir dari South China Morning Post, Filipina adalah negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di Asia Tenggara. Efek berkepanjangan dari lockdown telah menghancurkan perekonomian masyarakat setempat. salah satunya warga Manila, Jenn Pinon (35) yang menghabiskan waktu bertahun-tahun bekerja di gelar seni rupa yang diharapkan dapat membuatnya aman secara finansial.
Namun tak disangka, dia diputus kontrak sebagai desainer grafis. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia rela beralih profesi jadi penjual telur secara online. Dia juga tinggal di unit kondominium tak terpakai milik temannya untuk menekan biaya hidup.
"Saya sama sekali tidak mengharapkannya. Saya harus berterima kasih kepada Tuhan karena dia memberi saya cukup tabungan untuk saat ini. Semoga saja ini bertahan." kata Jenn Pinon.
Kawasan Asia Tenggara kemungkinan akan menempati urutan kedua di belakang anak benua India dalam memetakan jumlah orang miskin baru di Asia tahun ini. Sebab, jutaan orang kehilangan pekerjaan. Hal dikatakan Ramesh Subramaniam, direktur jenderal Asia Tenggara di Bank Pembangunan Asia (ADB) di Manila.
Kurangnya permintaan konsumen, kebangkrutan yang akan datang, dan social distancing akan terus mengganggu pertumbuhan pasar, menurut Priyanka Kishore, seorang ekonom di Oxford Economics.
"Secara keseluruhan, ini menunjukkan pemulihan yang panjang dan berlarut-larut," katanya.
"Kami memperkirakan PDB Asia Tenggara menjadi 2 persen di bawah garis dasar sebelum Covid bahkan pada tahun 2022."
Kemiskinan di Indonesia
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comBain & Co. tahun lalu memperkirakan bahwa Asia Tenggara akan menambah setidaknya 50 juta masyarakat kelas menengah pada tahun 2022. Prospek pendapatan masyarakat pada awalnya diperkirakan USD 300 miliar dan menarik Toyota dan IKEA untuk berkembang di Filipina.
Sekarang, hilangnya pendapatan menghambat pertumbuhan, karena konsumsi mewakili sekitar 60 persen dari produk domestik bruto negara-negara besar di kawasan itu selain Singapura, kata Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington.
Menurut Institut Penelitian Ekonomi Pembangunan Universitas Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebanyak 347,4 juta orang di Asia-Pasifik bisa jatuh di bawah garis kemiskinan USD 5,5 per hari karena pandemi.
Seperti halnya Adi Muhammad Fachrezi asal Indonesia. Dia menjadi orang pertama di keluarganya yang kuliah pada tahun 2014. Fachrezi berprofesi sebagai pemandu wisata turis di sekitar gunung berapi dan pantai pasir putih di Jawa. Satu bulan dia menghasilkan uang sekitar Rp20 juta untuk biaya sekolah dan makan.
Tetapi pendapatan itu seketika hilang karena virus telah menjauhkan wisatawan dan dia harus menunda studinya. "Saya agak hancur secara finansial sekarang," kata Fachrezi (24).
Fachrezi pun mencoba melihat ke depan. Dia ingin membangun kembali bisnis pemandu wisatanya, menyelesaikan kursus komunikasinya, dan tetap menjadi yang pertama di keluarganya yang mendapatkan gelar sarjana.
"Harapan terbaik saya, bisnis saya bisa beroperasi kembali di akhir tahun bertepatan dengan musim liburan," kata Fachrezi.
Namun harapan itu seakan sulit digapai, mengingat kasus virus di Indonesia terus meningkat setiap harinya.
Lima Negara Asia Tenggara Jatuh
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDilansir dari Bloomberg, besarnya kejatuhan ekonomi di lima negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara sangat parah pada kuartal kedua. Ekonomi Indonesia menyusut atau minus 5,3 persen dari tahun ke tahun, Malaysia minus 17,1 persen, Filipina minus 16,5 persen, Singapura minus 13,3 persen dan Thailand minus 12,2 persen.
Selama berbulan-bulan, Farah, (28), mencari pekerjaan di ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Sebelumnya dia dikeluarkan dari jabatan mengajar di pusat tutorial pada bulan Maret dan kini dia hanya mengandalkan gaji sederhana suaminya dari pekerjaan di panti jompo dan sedikit bantuan pemerintah.
"Kami hanya makan apa yang diperlukan untuk membuat kami kenyang," katanya.
Farah dan suaminya hampir menjadi tunawisma setelah masa sewa mereka berakhir saat lockdown. Mereka harus meminjam uang dari kerabat untuk biaya deposit apartemen mereka.
Lima negara ekonomi teratas Asia Tenggara masing-masing telah membelanjakan miliaran dolar untuk dukungan pendapatan guna meredam pukulan pandemi. Terlepas dari upaya tersebut, perlindungan sosial seperti tunjangan pengangguran di seluruh wilayah, kata Christian Viegelahn, ekonom di Organisasi Buruh Internasional.
"Pemerintah rata-rata hanya membelanjakan 2,7 persen dari PDB untuk program semacam itu, jauh di bawah rasio global 10,8 persen. Pekerja informal, yang mewakili 76 persen dari total lapangan kerja di Asia Tenggara sering kali gagal," katanya.
Reporter Magang ; Brigitta Belia
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya